Kisah Si Kuda Beban di Jalan Besi Indonesia

January 13, 2009

            Tidak ada yang menyangkal bahwa CC201 merupakan tulang punggung perkeretaapian modern Indonesia. Dari segi jumlah saja tidak ada kelas yang menyaingi populasi CC201. Saat ini tercatat lebih dari 140 unit dioperasikan PT. KA, dan melayani semua jenis rangkaian kereta. Pantas disebut kalau CC201 merupakan si kuda beban, karena bisa ditemui di manapun. Mulai dari menarik rangkaian barang, batubara, semen, minyak, sampai menarik gerbong penumpang semua kelas juga kelas eksekutif. Apapun tugasnya, dipastikan CC201 selalu dapat diandalkan.

            Kehadiran CC201 dapat dikatakan sebuah evolusi bagi era lokomotif diesel di Indonesia. Pada masanya kelas ini merupakan lokomotif terkuat dengan bobot yang relatif ringan. CC201 mampu menghasilkan tenaga 1800 dk dan bobotnya hanya 84 ton. Bandingkan dengan CC200, lokomotif diesel pertama Indonesia, yang hadir tahun 1953, bobotnya mencapai 96 ton sementara daya yang dihasilkan 1600 dk saja. Atau kelas BB200/BB201 buatan 1957/1964 yang berbobot sangat ringan masing-masing 75 dan 78 ton tapi daya yang dihasilkan hanya 875 dk dan 1310 dk.

            Dengan bobot ringan dan tenaga besar, CC201 memiliki wilayah operasi sangat luas, mulai dari pesisir yang datar, sampai ke pegunungan yang banyak tanjakan dan tikungan. Tingkat kehandalan yang tinggi ini membuat CC201 tersebar di seluruh jaringan kereta api. Sehingga dapat dipahami bahwa pemerintah pada tahun 1983 dan 1992 menambah armada CC201 untuk PT. KA dengan sejumlah modifikasi yang membuat performa si kuda beban semakin handal.

            Sebelum kehadiran CC202 (2000 dk) di Sumatera tahun 1986 dan CC203 (2000 dk) di Jawa tahun 1995, CC201 adalah pemegang rekor lokomotif terkuat di Indonesia. CC201 dapat dengan mudah menghela 12 gerbong penumpang sampai kecepatan 100 Km/jam di trek datar, atau 8 gerbong penumpang di trek pegunungan.

 

Hasil Proses Panjang

            Indonesia pertama kali menerima 28 unit CC201 pada tahun 1977, namun sejarah keberadaannya dapat ditelusuri sampai jauh ke tahun 1956. CC201 merupakan buatan pabrik lokomotif terkemuka Amerika Serikat yaitu General Electric (GE). Sebelum dibabtis menjadi CC201, lokomotif ini bernama asli U-18C, yang merupakan kepanjangan dari U: Universal Series, 18: bertenaga 1800 dk, dan C: berkonfigurasi gandar penggerak Co’ - Co’ (3-3).

            Pada tahun 1956, GE meluncurkan sebuah seri lokomotif diesel baru yang diberi kode U yang berorientasi pada pasar luar negeri. Ada tujuh model yang diperkenalkan pada saat itu: U4B, U6B, U9B, U9C, U12B, U12C, dan U18C. Dari ketujuh model tersebut hanya U-18C yang ditenagai oleh mesin revolusioner GE 7FDL yang kelak meroketkan lokomotif-lokomotif seri U menjadi lokomotif diesel elektrik yang handal di seluruh dunia.

            Mesin GE 7FDL ini berdaya tahan prima, mudah dirawat, dan memiliki keluaran tenaga maksimal yang bervariasi tergantung jenisnya. Ada 3 jenis mesin GE 7FDL, yaitu: 7FDL-8 (2150 dk), 7FDL-12 (3300 dk), dan terakhir 7FDL-16 (4500 dk). Begitu tangguhnya mesin ini, bahkan salah satu lok keluaran terbaru GE, Blue Tiger, masih ditenagai mesin 7FDL.

            U-18C dengan mesin GE 7FDL-8 pertama kali diperkenalkan pada tahun 1976. Bersistem DC-DC, dengan mesin V-8 supercharged yang sanggup menghasilkan tenaga sampai 1950 dk (kotor) atau 1820 dk (bersih). Seri inilah yang kelak dipesan oleh pemerintah RI untuk PJKA pada tahun 1977 dan diberi nama CC201.

CC20145 yang misterius

            Banyak cerita yang beredar di sekitar CC201, maklum saja karena selain jumlahnya yang banyak, juga hampir setiap masinis mengoperasikannya. Tapi tidak ada cerita yang sepopuler kisah CC20145. Konon, menurut para masinis dan teknisi, inilah lokomotif paling misterius di keluarga CC201. Banyak kejadian aneh dan membingungkan tentang lokomotif ini.

            Sejak pertama dibeli CC20145 sudah dicap sebagai lok bermasalah. Maksudnya adalah: walaupun hasil tes menunjukkan tidak ada problem, namun sering mengalami kecelakaan atau gangguan tanpa bisa dijelaskan. CC20145 semula ditugaskan menarik rangkaian ke arah timur. Saat menarik Bima tiba-tiba mengalami tabrakan. Setelah diperbaiki, kembali bertugas menarik rangkaian Bima, tapi kembali lagi mengalami tabrakan. Diperbaiki kembali di Balai Yasa Pengok, Yogyakarta, dan setelah selesai jabatannya diturunkan untuk menarik rangkaian kelas bisnis saja yaitu Jayabaya. Tetapi seperti bisa diduga CC20145 kembali lagi tabrakan. Frekuensi tabrakan sesama kereta atau kendaraan bermotor yang dialami CC20145 rupanya cukup sering, belum lagi kejadian aneh yang dialami para teknisi yang memperbaiki lok ini pasca tabrakan.

            Sesuai prosedur, setelah diperbaiki di Balai Yasa Pengok, CC20145 diuji statis untuk memeriksa kelengkapannya. Setelah semuanya beres, lok diuji dinamis di jalur tes di depan komplek Balai Yasa. Saat dipacu dengan kecepatan tinggi, mendadak rem gagal berfungsi, sehingga lok melaju terus dan menghantam dinding beton pembatas jalur tes. Sekali lagi CC20145 mengalami kerusakan dan harus diperbaiki.

            Merasa bingung dengan CC20145, teknisi Balai Yasa yaitu Bp. Panut dan Bp. Suroso merasa perlu memanggil tenaga ahli GE langsung dari Amerika. Saat sedang memeriksa CC20145, tenaga ahli GE itu bercerita bahwa saat proses pembuatan lok ini memang sudah bermasalah karena banyak terjadi kecelakaan kerja. Akhirnya diputuskan CC20145 harus diperbaiki secara spiritual. Sesuai adat orang Jawa, para teknisi Balai Yasa Pengok sepakat meruwat lok ini untuk membuang sial. Caranya dengan mengadakan selamatan dan memasang sepasang tapal kuda bekas di CC20145. Lalu memberikan beberapa gram emas dan menyepuh bagian samping bawah lok dengan lapisan nikel sehingga terlihat mengkilat.

            Anehnya setelah ritual ini CC20145 tidak pernah mengalami kecelakaan lagi. Sepertinya ruwatan yang dilakukan oleh teknisi Balai Yasa berhasil menghilangkan nasib sial lok ini. Sekarang CC20145 ditempatkan di dipo lokomotif Yogyakarta, dan dengan mudah dikenali lewat ciri khasnya sebagai lok dengan sisi yang dilapisi besi mengkilat.

Ulang tahun ke-30

            Tanpa terasa pada tahun 2007, CC201 telah 30 tahun mengabdi pada perkeretaapian Indonesia. Menyadari hal tersebut PT. KA tidak tinggal diam dan mulai mempersiapkan armada kuda bebannya memasuki millenium baru. Bekerjasama dengan Balai Yasa Pengok Yogyakarta dan General Electric, PT. KA mengadakan perawatan tengah umur (midlife overhaul) atau lebih dikenal dengan istilah MO bagi armada CC201 generasi awal. MO ini tidak sekedar mengganti suku cadang yang menua, tapi juga meningkatkan kemampuan CC201, seperti mengganti Bull Gear lama dengan yang baru, sehingga memungkinkan CC201 melaju sampai 120 km/jam. Dengan proyek ini, diharapkan CC201 bisa terus beroperasi sampai 20 tahun ke depan.

            Bahkan PT. KA tidak berhenti sampai disini. Tujuh unit CC201 generasi awal diubah total teknologinya, dari sistem DC-DC menjadi AC-DC yang sudah terkomputerisasi. Menggunakan teknologi canggih dari GE yaitu mikro prosesor Bright Star Syrius, seluruhnya menjadi kelas baru yaitu CC204 (GE C18 MMi) yang akan mengantar perkeretaapian Indonesia menuju era lokomotif digital modern. Di sini terlihat peran besar CC201, bahkan di usianya yang menjelang kepala 3, masih bisa memberikan sumbangan bagi kemajuan perkeretaapian Indonesia. Mengutip jargon mobil terpopuler di Indonesia, CC201 memang tiada duanya…!


Menembus Waktu dengan Pandanwangi

November 6, 2008

            Hari masih pagi namun suasana di emplasemen stasiun Semarang Poncol sudah sangat ramai. Para penumpang dengan aneka bawaannya berdesakan di emplasemen, sebagian ada yang mengakhiri perjalanan di sini, lainnya menunggu kereta berikutnya untuk sampai ke tempat tujuan. Mungkin beginilah suasana sekitar 107 tahun lalu, saat Semarang Poncol masih menjadi stasiun pusat SCS (Semarang Cheribon Stoomtram Maatschapij). Waktu itu semua penumpang dari arah barat harus turun di sini karena rel milik SCS belum tersambung dengan milik NIS (Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschapij) di timur. Bila ingin melanjutkan perjalanan, para penumpang harus pindah terlebih dahulu ke stasiun Kemijen, sekarang dikenal dengan Semarang Gudang, yang jauhnya sekitar 2,5 Km. Bahkan saat NIS membangun stasiun Semarang Tawang tahun 1914, kedua jalur tidak serta merta terhubung. Baru pada 1940, karena desakan perang, dibangunlah rel yang menghubungkan dua jalur yang terputus. Tak terasa hari beranjak siang dan KRD Pandanwangi masuk di jalur 1 dan siap diberangkatkan menuju stasiun Solo Balapan. Inilah salah satu kereta reguler dengan trayek melalui jalur kereta api tertua di Indonesia.

 

Kembali ke masa lalu

            KRD Pandanwangi berangkat pukul 08.20, dan rasanya perjalanan menuju Solo ini adalah petualangan dalam mesin waktu mundur ke masa lalu saat NIS masih berjaya sebagai perintis kereta api di Indonesia. Perjalanan dengan Pandanwangi ini unik bukan saja karena akan melewati jalur tertua di Indonesia, tapi karena jalur ini dahulu menggunakan lebar sepur (gauge) 1435mm yang merupakan lebar sepur standar internasional. Sayangnya lebar sepur standar satu-satunya di Indonesia ini dibongkar oleh Jepang sekitar tahun 1942 dan menjadikannya seragam dengan mayoritas lebar sepur di Jawa yaitu 1067mm.

            Sayangnya Pandanwangi tidak melewati Semarang Gudang, namun lewat sisi selatannya. Padahal jalur yang melewati desa Kemijen itu adalah jalur kereta pertama yang pembangunannya diresmikan tanggal 7 Juni 1864 oleh Baron Sloet van den Beele, Gubernur Jenderal Hindia Olanda. Kehilangan besar lainnya, stasiun tertua di Jawa yaitu stasiun Kemijen sudah lama dibongkar dan tidak ada bekasnya sama sekali. Menjelang Brumbung rel terbagi dua, ke utara menuju Surabaya, dan ke selatan menuju Solo.

 

Tanggung dan Kedungjati yang menawan

            Sama halnya dengan Brumbung, sebuah stasiun kecil bernama Tanggung kondisinya terlihat sangat baik. Stasiun yang dibangun dari kayu ini masih kokoh berdiri dan berfungsi penuh sebagai stasiun pengatur perjalanan kereta api. Stasiun ini merupakan stasiun akhir dari jalur kereta api pertama di Indonesia antara Kemijen - Tanggung sejauh 25 Km yang dibuka pada 10 Agustus 1867. Meskipun stasiun Tanggung yang asli sudah dibongkar, namun stasiun baru yang dibangun kemudian juga termasuk bangunan tua, karena didirikan pada tahun 1910.

            Sekitar 10 Km dari Tanggung, kembali Pandanwangi melewati saksi sejarah perkeretaapian Indonesia yang lain. Stasiun Kedungjati, sebuah stasiun besar yang bersih dan terawat baik dengan arsitektur klasik yang megah dihiasi pasangan bata ekspos sebagai aksen pada dinding. Daun pintu dan jendela yang berhiaskan ornamen khas jaman kolonial menambah keindahan stasiun yang konon kembaran dari stasiun Purwosari di Solo dan stasiun Willem I, sekarang dikenal dengan museum kereta api Ambarawa. Beruntung Pandanwangi dijadwalkan berhenti di sini sehingga para penumpang mempunyai cukup waktu mengagumi stasiun besar yang sudah berumur 131 tahun itu.

            Selain kondisi stasiun yang terawat, bekas jalur ke arah Ambrawa lewat Bringin dan Tuntang juga masih terlihat jelas. Walaupun sudah ditumbuhi semak belukar, jalur yang dibuka 21 mei 1873 ini masih relatif utuh. Bayangkan, bila kelak rencana rehabilitasi jalur Kedungjati ke Ambarawa sungguh terlaksana, para turis mancanegara atau domestik bisa mencapai museum kereta api Ambarawa dari Semarang dengan menggunakan kereta uap. Sayang, para penumpang tidak bisa berlama-lama di Kedungjati karena Pandanwangi harus melanjutkan perjalanan.

 

Jalur bersejarah yang terlantar

            Meninggalkan Kedungjati, perjalanan menjadi kurang menyenangkan. Kereta berguncang keras disertai suara bising. Ternyata kondisi rel yang sangat buruk. Kondisi rel, bantalan, dan batu ballast sangat memprihatinkan. Bantalan kayu dan besi ada yang patah, bengkok, bahkan ada beberapa yang baut pengikat relnya hilang. Batu ballast tidak terlihat di beberapa titik, sehingga rel langsung menempel saja ke tanah. Masinis dipaksa bekerja keras mengendalikan kereta karena disamping keadaan rel yang sangat buruk, jalur ini juga banyak terdapat tanjakan sementara kereta tidak boleh dipacu. Pemerintah dalam hal ini Departemen Perhubungan sebagai instansi yang berwenang merawat jalan rel, harus lebih memperhatikan jalur yang sangat bersejarah ini. Seharusnya perbaikan harus segera dilakukan karena adanya potensi untuk pengembangan sebagai jalur pariwisata mengingat 15 stasiun tua di sepanjang Semarang sampai Solo mempunyai daya tarik tersendiri.

 

Gundih, simpangan bersejarah

            Perjalanan yang tidak enak ini berakhir di stasiun Gundih. Sebuah stasiun simpangan di mana jalur dari Gambringan dan dari Brumbung bertemu. Stasiun Gundih juga menyimpan sejarah tersendiri. Di tempat ini adalah awal dimulainya jalur dengan 3 rel, yaitu rel lebar 1435 mm ditambah sebuah rel lagi di dalamnya sehingga kereta dengan lebar sepur 1067 mm bisa melewati jalur itu. Hal ini harus dilakukan supaya perjalanan kereta dari dua arah tidak terhambat, karena pada saat itu rel dari arah Gambringan berukuran 1067 mm sementara dari Brumbung lebar sepurnya 1435 mm. Jalur 3 rel ini terbentang sampai ke stasiun Lempuyangan di Jogja sebelum dibongkar paksa oleh Jepang tahun 1942.

            Kembali Pandanwangi dijadwalkan berhenti di Gundih, sehingga ada kesempatan bagi penumpang menikmati keindahan arsitektur Indisch stasiun ini. Secara keseluruhan kondisinya terawat baik terutama di bagian depan yang baru saja di renovasi. Ruangan inti stasiun masih asli, bahkan jam besar yang dipasang bersamaan dengan pembangunan stasiun berfungsi sempurna, demikian pula perangkat pemindah wesel jenis Alkmaar buatan pabrik Amsterdam juga masih digunakan hingga saat ini.

            Perjalanan menuju Solo masih panjang, sehingga Pandanwangi harus berangkat kembali. Jalur di selatan Gundih kondisinya luar biasa baik, dilengkapi bantalan beton dan rel besar dengan sambungan panjang yang membuat kereta meluncur mulus dan tenang, serta bisa dipacu sampai 80 Km/jam. Pemandangan pun berangsur berubah menjadi sawah yang menghijau dan pepohonan rimbun di sepanjang rel yang berdampingan dengan jalan raya Solo - Purwodadi. Tanpa terasa perjalanan mendekati akhir. Menjelang Solo Balapan, rel terpecah dua, ke timur arah Solo Jebres dan Madiun, dan ke arah Jogja di barat.

 

            Tepat pukul 10.38 KRD Pandanwangi tiba di stasiun Solo Balapan. Saat melangkah keluar kereta rasanya seperti tersadar baru saja melakukan perjalanan dari masa lalu yang luar biasa dan kembali ke masa kini. Namun suasana masa lalu masih membayang bahkan di emplasemen stasiun Solo Balapan yang dibangun oleh NIS. Saat menengok ke arah barat terbentang jalur kereta api ke Jogja yang juga menyimpan sejarah yang tidak kalah penting bagi perkeretaapian Indonesia.


Leluhur Prameks yang Terlupakan

October 4, 2006

Prameks

Prameks2

Seruling keras mengejutkan siapapun yang menanti dengan sabar di pintu perlintasan kereta api Lempuyangan. Prambanan Ekspres pagi dari Yogyakarta dengan warna-warni yang meriah berpacu menuju ke arah Solo. Sementara di waktu yang bersamaan, Prambanan Ekspres terbaru besutan PT. INKA baru saja meninggalkan stasiun Purwosari menuju ke Jogja. Inilah kemewahan yang dimiliki para komuter yang berdiam di antara kota Jogja dan Solo. Dua set kereta diesel yang setia melayani mereka setiap hari tanpa henti. Ribuan penumpang menikmati kesetiaan kereta Prambanan Ekspres, namun di tengah keriuhan sibuknya jalur Jogja - Solo ada yang terlupakan.

Kuda

Nakula

Kudac

Prambanan Ekspres bukanlah kereta komuter pertama yang melayani jalur Jogja dan Solo. Jika ditelisik jauh ke tahun 60-an dan 70-an ada kereta yang bernama Kuda Putih. Bagi para generasi orang tua kita yang pernah tinggal di Jogja dan Solo tentunya tidak asing dengan nama ini. Inilah cikal bakal KRD komuter yang melayani jalur Jogja - Solo pada masa itu. Bahkan KRD Kuda Putih adalah Kereta Rel Diesel pertama yang dimiliki oleh Indonesia.

Ferrostaaled

Kuda_putih

Dibuat di Jerman oleh Ferrostaal pada pertengahan 1960-an dengan menggunakan mesin General Motor, KRD ini dianugerahi nama-nama tokoh Pandawa Lima. Pada masa jayanya Kuda Putih merupakan favorit bagi para penumpang untuk menempuh Jogja dan Solo. Namun Kuda Putih yang perkasa harus mati muda. Pada pertengahan 1970-an beberapa di antaranya mulai rusak karena tidak adanya suku cadang. Bahkan di sebuah foto yang diambil oleh railfan Inggris Malcolm Wilton-Jones pada tanggal 23 Oktober 1976 di stasiun Tugu ada sepasang Kuda Putih yang harus ditarik oleh lokomotif BB200. Seiring bertambahnya waktu Kuda Putih pun mati perlahan-lahan.

Kdp074

Kdp075

Kdp076

Kdp077

Kdp078

Dipo Lokomotif Solo 2006. Inilah wajah Kuda Putih sekarang. Teronggok tak berdaya berantakan dimakan usia di salah satu sudut dipo lokomotif Solo Balapan. Tersembunyi di antara semak-semak dengan kondisi yang memprihatikan. Dari sekian banyak Kuda Putih yang pernah dimiliki Indonesia, tinggal satu unit yang tersisa. Itu pun saat ini dijadikan gudang dan tempat ganti para pegawai dipo. Sungguh ironis. Di tengah berjayanya Prambanan Ekspres penerusnya, Kuda Putih seperti terlupakan. Dari ribuan komuter yang melintas, adakah satu orang pun yang teringat akan jasanya. Atau paling tidak pernah mendengar namanya dari cerita para orang tua dulu. Tengoklah Kuda Putih sesekali bersama teman, mungkin hati Anda akan tergerak untuk menyelamatkannya. Mungkin…


Serunya Mencoba KRDE

September 7, 2006

Uji_statis

Ruang_uji

Driving_cab

Sebuah lompatan teknologi baru saja ditorehkan oleh PT Industri Nasional Kereta Api saat meluncurkan satu set kereta penumpang dengan teknologi Kereta Rel Diesel Elektrik (KRDE). Dengan teknologi yang dikembangkan sendiri, PT INKA mampu menjawab tantangan untuk menyediakan kereta komuter jarak dekat dan menengah. Kebetulan saya adalah satu dari sedikit orang yang beruntung menyaksikan langsung KRDE di pabriknya saat sedang dilakukan tes statis.

Interior

Diesel

Boogie

KRDE ini menggunakan car body dari KRL buatan Holec/Bombardier yang sempat terendam banjir di Jakarta beberapa tahun lalu. Setelah sekian lama terbengkalai, maka diambil inisiatif untuk menggunakannya sebagai cikal bakal KRDE. Para teknisi INKA pun mulai membenahi rangkaian KRL bekas ini dan menyulapnya menjadi kereta yang sama sekali baru. Dengan menggunakan mesin diesel buatan Cummins dan alternator Toshiba, KRDE ini cukup mempuni dengan tenaga 1500 Hp yang dikontrol oleh komputer. Selain itu KRDE juga dilengkapi dengan bolsterless bogie yang dapat meredam guncangan dengan mantap. Sayangnya saat itu saya tidak bisa mencoba performa KRDE secara langsung karena belum resmi diluncurkan.

Lempuyangan

Klaten

Driving_cab2

Bareng

Tapi kesempatan itu datang juga. KRDE akhirnya diresmikan sebagai rangkaian Prambanan Ekspres yang melayani kota Jogja dan Solo. Tanpa membuang waktu saya memutuskan mencoba KRDE buatan INKA ini. Performa awalnya tidak mengecewakan, tanjakan antara stasiun Lempuyangan dan stasiun Maguwo dilewati dengan mudah. Prambanan Ekspres berhenti sejenak di Stasiun Klaten dan masinis yang ramah menawari saya untuk ikut di dalam kabin. Tentu saja saya senang sekali karena bisa memantau performa KRDE dengan mudah. Kereta meluncur lagi menuju ke Palur.

Speeding

Tugu

Kembali dari Palur pak masinis ingin menunjukkan performa KRDE sesungguhnya kepada saya. Dia memacu KRDE lebih cepat lagi. Speedometer digital bergerak terus 98… 99… 100… 101… 102… 103… Kereta tak terguncang sedikit pun. Rupanya bolsterless bogie bekerja sempurna. Speedometer bergerak terus 104… 105… dan semua sistem mendadak mati. Pak masinis segera me-restart komputer dan semua kembali normal. Rupanya KRDE ini dilengkapi dengan pembatas kecepatan (speed limiter) yang segera bekerja saat kereta bergerak terlalu cepat. Akhirnya KRDE tiba kembali di stasiun Tugu Yogyakarta. Dan terlihat di jalur 6 KRD hidrolis buatan Nippon Sharyo sedang parkir menunggu pemberangkatan sore hari. KRDE tampaknya telah menjadi raja baru di jalur Jogja - Solo.


Yuk, Selamatkan Si Bon Bon

September 6, 2006

Bon-bon. Itulah panggilan kesayangan bagi lokomotif listrik yang kini tersimpan tak terurus di dalam Balai Yasa Manggarai. Lokomotif listrik 202 buatan tahun 1926 besutan pabrik Werkspoor ini tampak terlupakan setelah berjasa melayani para penumpangnya antara Jakarta - Buitenzorg (Bogor) sejak akhir 1920-an sampai pertengahan 1970-an. Dia meringkuk di salah satu sudut, teronggok sendiri di bawah sebuah pohon yang rindang. Bagian dalamnya porak poranda sementara atapnya dipenuhi sampah dedaunan bahkan beberapa tunas tanaman mulai tumbuh di situ. Dindingnya dipenuhi karat dan langsung berantakan saat disentuh. Mungkinkah ini akhir riwayat Bon-bon yang perkasa itu.

Kuno069

Kuno068

Alkisah, menjelang ulang tahun Staatsporwegen (SS) yang ke 50 pada tahun 1925, dipikirkanlah sebuah hadiah bagi perusahaan kereta api terbesar di Hindia Belanda itu. Maka direncanakanlah proyek elektrifikasi sebagai kado pesta emas. Pada tahun 1925 bersamaan dengan diresmikannya stasiun Tanjung Priok yang baru diresmikan pula selesainya proyek elektrifikasi di Batavia. Lalu untuk melengkapi program elektrifikasi ini dipesan pula sejumlah KRL dan lokomotif listrik. Salah satu jenis lokomotif listrik yang dipesan itu adalah kelas 3200 buatan Werkspoor - Heemaf. Dirancang dan diproduksi oleh Werkspoor dengan lisensi Baldwin sementara perlengkapan elektrik dibuat oleh Heemaf atas lisensi Westinghouse.

Kuno067

Kondisi

Demikianlah setelah elektrifikasi diperpanjang sampai ke Bogor, lokomotif listrik ini pun melayani jalur di selatan Batavia yang padat, karena banyaknya penglaju yang tinggal di Bogor namun bekerja di Batavia. Begitu banyak orang yang menikmati jasa lok listrik sampai-sampai mereka memberikan panggilan sayang, Bon-bon. Ya, karena bentuknya yang mirip dengan kotak bon-bon. Selama puluhan tahun lokomotif listrik ini setia melayani jalur ini. Salah satunya adalah nomer 3202. Setelah Indonesia merdeka nomernya pun diganti menjadi 202 dan terus bertugas sampai akhirnya pensiun pertengahan 1970-an. Sejak saat itu lok listrik WH 202 tersimpan di dalam balai yasa Manggarai terlupakan dan termakan jaman.

Periksa

Beruntung WH 202 tidak sempat dihancurkan seperti saudara-saudara yang lain di tangan mafia besi tua. Beruntung pula pada Agustus 2006 sekelompok railfans yang tergabung dalam Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) membentuk Sahabat Bon-bon untuk menyelamatkan lok listrik WH 202 dan menjadikannya monumen. Sambil berlomba melawan mafia besi tua yang ganas mereka melakukan lobby kepada pihak terkait dan turun langsung ke lapangan membersihkan Bon-bon.

Kerja_bakti

Dalam

Bersih

Istirahat

Tanpa kenal lelah mereka bekerja di lapangan di tengah panas terik dan lingkungan kerja yang kotor setiap hari Sabtu. Tanpa dibayar atau mengharapkan bayaran, para railfans dengan sukarela bekerja dan merogoh kocek sendiri untuk menyelamatkan Bon-bon. Disamping bekerja mereka juga membuat situs www.sahabatbonbon.com untuk mengenalkan Bon-bon secara global sambil mengumpulkan donasi dari berbagai pihak. Perjuangan tanpa kenal lelah ini perlahan menuai hasil. Kegiatan ini mulai diliput oleh media massa dan mendapat perhatian dari pejabat penting PT. Kereta Api dan dinas pariwisata DKI. Sumbangan finansial terus mengalir sementara uluran tangan pihak terkait juga mulai berdatangan.

Jalan menyelamatkan Bon-bon masih panjang dan berliku. Setiap bantuan sangat kami butuhkan untuk menyelamatkan salah satu warisan sejarah perkeretaapian di Indonesia. Jika Anda berkenan membantu silahkan kunjungi IRPS Sahabat Bon-bon di www.sahabatbonbon.com hari ini.


Menuju Wonogiri

August 25, 2006

Pws

Romb1

Romb2

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 08.00 ketika rombongan kami turun dari Senja Bengawan yang membawa kami dari St. Lempuyangan Yogyakarta ke St. Purwosari di kota Solo. Hari minggu yang cerah menyambut kami dan akan mengiringi perjalanan singkat ke Wonogiri dengan kereta api. Ke Wonogiri dengan kereta api? Masih ada orang yang bertanya-tanya adakah kereta menuju Wonogiri. Ternyata ada, dan cukup unik. Karena jalur kereta ke Wonogiri ini adalah satu-satunya jalur rel yang melewati dalam kota yang masih tersisa di Indonesia. Jalur kereta ini akan menembus keramaian jalan Slamet Riyadi di jantung kota Solo.

Dateng1

Dateng2

Langsir

Setelah menunggu sekitar setengah jam, rangkaian kereta yang kami tunggu pun tiba. Dengan formasi 2 kereta kelas ekonomi yang dihela oleh lok BB30003 buatan Krupp siap mengantar kami ke Wonogiri. Kereta datang dari arah Solo Balapan, karenanya posisi lok harus ditukar ke sisi yang lain. Rekan-rekan tampak antusias membantu gerakan langsir itu. Sementara ada yang membantu, ada juga yang sibuk mengambil foto-foto. Selesai gerakan langsir dilakukan, kami bergegas memasuki kereta. Ada yang memilih di dalam kabin masinis, ada yang memilih duduk di dalam kabin kereta yang sepi. Di dalam gerbong ekonomi hanya terlihat sedikit sekali penumpang, mungkin tidak lebih dari 20 orang di dalam kedua kereta. Jadi kami bebas memilih tempat duduk dan bahkan berjalan-jalan di sepanjang gerbong. Akhirnya saya memilih duduk dekat lokomotif jadi tidak terpisah terlalu jauh dari teman-teman yang ada di kabin masinis.

Berangkat

Sinyal_aman

Tak lama kemudian rangkaian siap diberangkatkan. Lok sudah siap, penumpang sudah naik, dan pak PPKA dengan seragam serta topi merah nan gagah memberikan semboyan 40 dan 41 tanda aman kereta berangkat. Di kejauhan terlihat sinyal sudah dibuka. Kereta mulai bergerak perlahan menembus kepadatan perumahan di sekitar St. Purwosari. Tak henti-hentinya masinis membunyikan suling untuk memberitahu kereta akan melintas karena hampir seluruh perlintasan yang akan kami lewati tidak dijaga.

Slamer1

Slamer2

Dengan jantung berdebar kereta yang kami tumpangi perlahan tapi pasti memasuki jalan Slamet Riyadi Solo. Wow, jalan yang sangat padat dan sebuah rangkaian kereta melintas di tengah2nya! Berbagai kejadian membuat geli dan tegang. Seperti saat sebuah mobil memaksa memotong jalan kereta dan nyaris tertabrak tapi malah si supir yang marah-marah. Sementara di dekat benteng Vastenburg ada sebuah sepeda motor yang diparkir merintangi jalan kereta, sehingga kereta harus berhenti sejenak sampai si empunya motor menepikannya.

Solo_kota

Penuh

Akhirnya kami tiba di St. Solo Kota (Sangkrah). Langsung kereta ini diserbu ratusan penumpang yang hendak berwisata ke Wonogiri. Konyolnya ada yang bahkan membawa sepeda masuk ke dalam gerbong. Dalam waktu singkat kereta yang lengang langsung berubah menjadi lautan manusia. Pengamen, lansia, sampai ABG ikut menyerbu ke dalam kereta yang berjalan tergoncang-goncang karena kondisi rel yang buruk. Kereta pun melalui sejumlah halte dan bertambah pula jumlah penumpang.

Sukoharjo

Pasarnguter

Di stasiun Sukoharjo dan Pasar Nguter sejumlah penumpang turun. Akhirnya kami bisa sedikit bernapas lega. Namun perjalanan menuju Wonogiri masih lumayan jauh. Kembali kereta bergerak terombang ambing mirip perahu tapi terus saja pak masinis memacu lokomotif sambil terus membunyikan suling semboyan 35 karena hampir seluruh perlintasan yang kami lewati memang tidak berpintu sama sekali.

Wonogiri1

Wonogiri2

Langsir_wonogiri_1

Ke_baturetno

Tera_tiket

Tepat 1,5 jam dari berangkat kami pun tiba di Wonogiri. Sebuah stasiun kecil yang dibangun pada sekitar tahun 1920-an dan masih bertahan tegak sama seperti aslinya sampai hari ini. Sebenarnya dulu jalur rel yang melewati Wonogiri ini mencapai ke kota Baturetno. Namun karena pembangunan waduk Gajah Mungkur, maka jalur ini terputus karena jalur rel tergenang air waduk. Setibanya di Wonogiri, lokomotif kembali di langsir untuk bersiap kembali ke Solo. Dan setelah makan siang dan menikmati teriknya matahari kota Wonogiri, tak lupa kami menyempatkan membeli tiket di St. Wonogiri sebagai kenang-kenangan. Uniknya di dalam loket kami menemukan alat tera tiket Edmonson dari jaman SS. Juga ini yang aneh karena stasiun ini pada jaman Hindia Belanda dulu adalah milik NIS sementara alat tera tiketnya milik SS. Mungkin sudah tertukar-tukar tak karuan beberapa saat lalu. Entahlah apa yang terjadi, tapi pokoknya perjalanan kami ke Wonogiri sangat menyenangkan.


Hampir Malam di Jogja

July 31, 2006

Prameks1

Prameks

Kereta Prambanan Ekspress terakhir baru saja tiba dari Solo dan menepi di jalur 6. Angin dingin menusuk tulang terasa menggerus kekuatan setiap orang yang berada di bawah atap Stasiun Jogjakarta Tugu. Mesin yang menderu-deru di matikan dan dalam sekejap kesunyian mengambang di atmosfir stasiun yang bergaya art deco itu. Hanya segelintir penumpang saja yang tampak menunggu kereta yang akan datang menjadikan suasana bertambah sunyi dan sepi. Beberapa toko sudah mulai menutup gerainya. Sementara di ujung sebelah sana tampak seorang bapak tua dengan sarungnya telah lelap di atas kursi. Satu-satunya kesibukan yang terlihat ada di dalam ruang PPKA.

Gbms

Sesaat kemudian bel berdentang-dentang menandakan akan adanya kereta yang akan tiba. Sorotan lampu dari arah timur mulai terlihat. Deru lokomotif diesel buatan General Electric tahun 1983 mengguncang suasana dingin stasiun. Derak-derak roda besi menghantam sambungan rel seolah menjadi gempa kecil yang membangunkan nyenyak beberapa pedagang. Namun yang melintas itu adalah kereta Gaya Baru Malam. Sebuah kereta kelas ekonomi, salah satu rangkaian kereta yang dibabtis sendiri oleh Presiden pertama RI Ir. Soekarno selain kereta eksekutif Bima. Kereta kelas ekonomi tidak berhenti di sini dan melaju terus meninggalkan stasiun kembali dalam keheningan. Hanya tatapan seorang PPKA yang mengiringi lajunya sampai tak terlihat lagi oleh mata.

Jaybay

Plka

Tak lama berselang kembali sorot cahaya dari timur muncul kembali. Jayabaya gumamku. Dan benar saja. Kali ini giliran guruh lokomotif diesel General Electric buatan tahun 1977 menggelegar memekakkan telinga. Para pedagang kembali terjaga. Buru-buru mereka menyiapkan dagangan menyambut rejeki yang datang di tengah dinginnya malam. Segera setelah kereta berhenti, mereka menyerbu setiap jendela dengan reka ragam penganan khas Jogja baik untuk di makan atau hanya sekedar oleh-oleh. Waktu berhenti yang singkat itupun dimanfaatkan oleh petugas urusan kereta untuk memeriksa salah satu bogie Jayabaya. Entah ada kerusakan, atau mengganti sepatu rem, atau hanya memeriksa saja. Sambil menggelosor ke dalam kolong kereta, yang tak bisa kubayangkan aromanya, dia mengetuk-ketukkan palunya yang sebesar godam itu. Nah, beres! Mungkin demikian katanya saat melangkah keluar dari kolong laknat itu.

Mutsel

Vendor

Selepas Jayabaya, aku mendengar deruman yang berbeda dari sebelumnya datang dari arah timur. Tak kuragukan lagi itu adalah lokomotif diesel dengan dua tingkat supercharger. Benar saja Mutiara Selatan dengan angkuhnya merangsek masuk stasiun Jogja dikawal lokomotif terkuat di Jawa, kelas CC203. Kembali para pedagang bangkit, melupakan dingin yang menusuk tulang untuk mengais sedikit rejeki yang mungkin terbawa rangkaian kereta yang menuju Bandung dari Surabaya ini. Usai berlalunya Mutiara Selatan, dingin tak tertahankan lagi memaksaku untuk beranjak pergi.

Hampir malam di Jogja, ketika keretaku tiba…


Ke Bandung dengan Kereta Presiden

July 3, 2006

Seorang pramugari yang manis dengan senyum ramah menyambut saya di depan pintu kereta. “Pagi mas, bisa saya bawakan tasnya…” Saya menolak dengan halus karena ransel saya tidak berat. Hani namanya, dia menuntun saya masuk ke dalam kereta mewah berpendingin udara. Hari ini untuk pertama kali dalam hidup, mungkin juga terakhir kali, saya mendapatkan kesempatan mencoba kereta Nusantara, satu dari tiga kereta Kepresidenan yang dimiliki PT. Kereta Api. Dua kereta lainnya, Bali dan Toraja, tidak semewah kereta Nusantara ini. Salah seorang teman saya menyewa kereta ini dalam rangka hari ulang tahunnya (wow!). Dia mengeluarkan biaya tujuh juta rupiah untuk perjalanan singkat ke Bandung.

Kereta Nusantara dilengkapi dengan ruang makan yang luas dengan jendela besar di salah satu ujungnya. Kereta ini selalu dirangkai di posisi paling belakang sehingga kita bisa menikmati pemandangan selama perjalanan dari kaca belakang yang sangat luas. Ruang duduknya sangat lega dilengkapi entertainment set bermerek Pioneer dengan Plasma TV yang besar. Ruang tidurnya sangat lega dan cocok buat pasangan yang sedang bulan madu (hmmm…).

Kereta ini dirangkai dengan Argo Gede yang berangkat dari Jakarta pukul 09.30. Serasa raja kami dilayani oleh para crew yang berjumlah 4 orang, mulai dari welcome drink, snack, sampai hiburan yang disiapkan di entertainment set. Perjalanan terasa menyenangkan apalagi saat kami menikmati jalur kereta yang berkelok-kelok mengikuti pegunungan Priangan yang indah. Tiba-tiba semua mendadak gelap. Rupanya kami memasuki terowongan Sasaksaat yang panjangnya nyaris satu kilometer.

Tanpa terasa perjalanan selama 2,5 jam harus berakhir di stasiun Bandung. Kami disambut bagai tamu penting dan ditempatkan di ruang VIP untuk melepas lelah sejenak sebelum melanjutkan acara kami. Hmmm begini rasanya jadi Presiden kalau bepergian dengan kereta api…

Prami

Gambir

Ruang_makan

Ruang_duduk

Jendela

Kamar_tidur

Duduk2

Sasaksaat

Silang


Jatinegara, Pukul Tiga Dini Hari

June 23, 2006

Stasiun Jatinegara bukanlah tempat yang umum bagi seseorang untuk begadang. Namun itulah yang terjadi saat saya tiba di kota ini terlalu pagi. Senja Utama Semarang sampai di Jakarta sekitar jam 02.30. Masih terlalu pagi untuk saya melanjutkan perjalanan pulang menuju rumah. Akhirnya dengan berbekal selembar kertas koran kemarin, saya duduk di lantai peron Stasiun Jatinegara yang sangat kotor dan kumuh.

Di sekitar saya banyak orang senasib yang memilih menunggu pagi daripada harus mengarungi kelamnya Jakarta di tengah kegelapan. Mereka menggeletak begitu rupa tanpa peduli kotor dan bau, tertidur tanpa terganggu kebisingan kereta api yang melintas. Bercampur dengan gelandangan, pengemis, dan anak jalanan yang juga terlelap pulas. Di peron seberang sekelompok pengamen menembangkan salah satu hits milik grup Samson dengan gitar dan suara yang fals.

Kereta berlalu dan berlalu, makin bertumpuk penumpang di peron. Akhirnya sang surya mengintip juga dari balik kegelapan. Ah perut rasanya keroncongan, sepiring nasi hangat dengan sayur labu, tempe, dan tahu menjadi menu sarapan pagi itu. Entah apa yang bisa dikatakan dengan Stasiun Jatinegara. Kumuh? Berantakan? Atau Ramah? Pendatang disambut dengan kehangatannya sementara para penghuni sementara berlindung di bawah kekokohan atapnya.

Kakek_tua

Melaju

Lelap

Baru_tiba

Bengong


Kereta Sultan Deli di Pulubrayan

May 24, 2006

Keberadaan Kota Medan tentu saja tidak dapat dipisahkan dengan kehadiran Kesultanan Deli. Kesultanan yang pernah menjadi salah satu kesultanan besar di Sumatera itu pernah beribukota di kota yang semula sebuah kampung kecil di tepi Sei Deli dan Sei Babura yang dibangun oleh Guru Patimpus, seorang Karo keturunan Raja Singa Mahraja, pada tahun 1590. Kesultanan Deli yang merdeka dari Aceh dan Siak pada tahun 1861 ini, di masa jayanya adalah produsen tembakau paling terkenal di Hindia Belanda dan menjadi tulang punggung perekonomian kesultanan pada masa itu.

Sisa-sisa kejayaan itu masih nampak sampai sekarang di tengah kebisingan dan hiruk pikuk kota Medan yang telah menjadi kota metropolis modern. Istana Maimun tegak berdiri di tengah kepungan Mall dan Plaza, sementara Mesjid Raya Medan yang pada tahun ini genap berusia seabad masih dapat kita kagumi kemegahannya. Namun dari sekian banyak peninggalan Kesultanan Deli, ada satu lagi peninggalan penting yang terlupakan.

 

Tidak banyak orang Medan yang mengetahui tentang keberadaan gerbong kereta api (kalau kita sebut kereta saja bisa disalahtafsirkan sebagai sepeda motor) Kesultanan Deli. Sahabat saya yang orang Medan asli sampai mengerutkan kening karena dia tidak pernah mendengar keberadaan kereta Sultan Deli. Tentu saja tidak banyak orang tahu, karena kereta ini berada di Pulu (Pulo?) Brayan, 5 Km di sebelah utara kota Medan. Untuk menambah kompleksitas, kereta ini tersembunyi di dalam kompleks Balai Yasa Pulu Brayan sekitar 1 Km ke barat pusat kota Pulu Brayan. Begitu menginjakkan kaki di dalam kompleks tidak serta merta kita menjumpai kereta tersebut karena tersimpan di salah satu dari empat gedung kerja raksasa di sana.

 

 

 

 

Kehadiran kami yang ditemani petinggi Balai Yasa dan Kahumas PT. Kereta Api Divisi Regional 1 menarik perhatian para pekerja, yang sejenak menghentikan kegiatan mereka untuk memperhatikan kami. Setelah melewati los-los kerja akhirnya mata kami tertumbuk pada sebuah kereta yang terbuat dari kayu di salah satu sudut gedung. Dengan cat warna putih dipadu garis hijau, kereta itu nampak bersinar dibandingkan gerbong-gerbong dan gerobak rongsokan di sekitarnya. Memang agak sedikit kotor, namun tidak mengurangi keanggunan dan kemegahannya. Kami tidak membuang waktu lagi dan segera mengambil gambar dari berbagai sudut sebanyak-banyaknya.

 

 

 

Bapak Hendra dari Balai Yasa Pulu Brayan dengan bangga menunjukkan setiap detail kereta yang masih dalam kondisi terawat. Boogie tua dengan cap DSM tampak mengkilat tertimpa sinar lampu blitz kami. Sementara kemewahan kereta ini tampak dari kaca jendela dua lapis yang salah satu lapisannya digrafir dengan logo DSM. Di bagian tengah kereta kaca jendela digrafir dengan lambang Kesultanan Deli.

 

 

 

Seorang teknisi datang tergopoh-gopoh sambil membawa alat pembuka kunci. Kami menahan nafas sejenak menantikan apa yang ada di balik pintu-pintu kayu nan kokoh itu. Saya kebagian terakhir memasuki kereta. Dan apa yang saya lihat adalah suatu hal yang luar biasa. Interior kereta tua yang dilapisi kayu yang dipelitur rapi dan dilengkapi sejumlah lampu antik dengan bingkai terbuat dari kuningan. Satu set perabotan meja dan kursi dari kayu melengkapi ruangan duduk dengan kaca jendela yang luas di salah satu ujungnya itu. Seluruh permukaan kursi dilapisi busa empuk dibungkus kain berwarna krem yang lembut. Sebuah kemewahan klasik yang menyenangkan.

 

 

 

Kami bergerak lebih jauh lagi ke dalam kereta yang bak hotel berjalan ini. Di balik ruang duduk tersedia ruang sholat, kamar tidur mini, dapur, dan kamar mandi. Sementara di ujung kereta tersedia ruang duduk kecil. Konon ruang ini diperuntukkan bagi penjaga Sultan yang akan mengawal sepanjang perjalanan. Saat turun dari kereta, saya mengamati sekali lagi kereta klasik berwarna putih dan hijau itu dan membayangkan warna asli kereta Kesultanan Deli itu. Sayangnya di buku De Deli Spoorweg Maatschapij karangan Ir. Meijer, foto kereta itu dalam warna aslinya masih hitam putih. Namun demikian keanggunan dan kemewahan kereta itu masih bisa dirasakan sampai sekarang.

 

 

 

Saat ini kereta Sultan Deli itu digunakan untuk kereta inspeksi PT. Kereta Api Divre 1 dan sangat jarang dioperasikan. Sampai-sampai seorang teknisi berseloroh kalau kereta ini walau berumur tua jarak yang ditempuhnya tidak sebanyak kereta penumpang modern yang lebih baru. Sementara rekannya yang lebih muda menimpali bahwa sekarang setiap orang bisa merasakan menjadi Sultan Deli dengan menaiki kereta ini. Saya tertawa dalam hati karena sempat terlintas pikiran itu. Ya, hari ini saya telah jadi ‘Sultan Deli’ selama setengah jam saja.

 

 

 

Kebayoran, 9 Mei 2006

 

Sultan_1_1 

 

Sultan_2_3

 

 

 

 

 

 

 

 

Sultan_7