Menembus Waktu dengan Pandanwangi

November 6, 2008

            Hari masih pagi namun suasana di emplasemen stasiun Semarang Poncol sudah sangat ramai. Para penumpang dengan aneka bawaannya berdesakan di emplasemen, sebagian ada yang mengakhiri perjalanan di sini, lainnya menunggu kereta berikutnya untuk sampai ke tempat tujuan. Mungkin beginilah suasana sekitar 107 tahun lalu, saat Semarang Poncol masih menjadi stasiun pusat SCS (Semarang Cheribon Stoomtram Maatschapij). Waktu itu semua penumpang dari arah barat harus turun di sini karena rel milik SCS belum tersambung dengan milik NIS (Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschapij) di timur. Bila ingin melanjutkan perjalanan, para penumpang harus pindah terlebih dahulu ke stasiun Kemijen, sekarang dikenal dengan Semarang Gudang, yang jauhnya sekitar 2,5 Km. Bahkan saat NIS membangun stasiun Semarang Tawang tahun 1914, kedua jalur tidak serta merta terhubung. Baru pada 1940, karena desakan perang, dibangunlah rel yang menghubungkan dua jalur yang terputus. Tak terasa hari beranjak siang dan KRD Pandanwangi masuk di jalur 1 dan siap diberangkatkan menuju stasiun Solo Balapan. Inilah salah satu kereta reguler dengan trayek melalui jalur kereta api tertua di Indonesia.

 

Kembali ke masa lalu

            KRD Pandanwangi berangkat pukul 08.20, dan rasanya perjalanan menuju Solo ini adalah petualangan dalam mesin waktu mundur ke masa lalu saat NIS masih berjaya sebagai perintis kereta api di Indonesia. Perjalanan dengan Pandanwangi ini unik bukan saja karena akan melewati jalur tertua di Indonesia, tapi karena jalur ini dahulu menggunakan lebar sepur (gauge) 1435mm yang merupakan lebar sepur standar internasional. Sayangnya lebar sepur standar satu-satunya di Indonesia ini dibongkar oleh Jepang sekitar tahun 1942 dan menjadikannya seragam dengan mayoritas lebar sepur di Jawa yaitu 1067mm.

            Sayangnya Pandanwangi tidak melewati Semarang Gudang, namun lewat sisi selatannya. Padahal jalur yang melewati desa Kemijen itu adalah jalur kereta pertama yang pembangunannya diresmikan tanggal 7 Juni 1864 oleh Baron Sloet van den Beele, Gubernur Jenderal Hindia Olanda. Kehilangan besar lainnya, stasiun tertua di Jawa yaitu stasiun Kemijen sudah lama dibongkar dan tidak ada bekasnya sama sekali. Menjelang Brumbung rel terbagi dua, ke utara menuju Surabaya, dan ke selatan menuju Solo.

 

Tanggung dan Kedungjati yang menawan

            Sama halnya dengan Brumbung, sebuah stasiun kecil bernama Tanggung kondisinya terlihat sangat baik. Stasiun yang dibangun dari kayu ini masih kokoh berdiri dan berfungsi penuh sebagai stasiun pengatur perjalanan kereta api. Stasiun ini merupakan stasiun akhir dari jalur kereta api pertama di Indonesia antara Kemijen - Tanggung sejauh 25 Km yang dibuka pada 10 Agustus 1867. Meskipun stasiun Tanggung yang asli sudah dibongkar, namun stasiun baru yang dibangun kemudian juga termasuk bangunan tua, karena didirikan pada tahun 1910.

            Sekitar 10 Km dari Tanggung, kembali Pandanwangi melewati saksi sejarah perkeretaapian Indonesia yang lain. Stasiun Kedungjati, sebuah stasiun besar yang bersih dan terawat baik dengan arsitektur klasik yang megah dihiasi pasangan bata ekspos sebagai aksen pada dinding. Daun pintu dan jendela yang berhiaskan ornamen khas jaman kolonial menambah keindahan stasiun yang konon kembaran dari stasiun Purwosari di Solo dan stasiun Willem I, sekarang dikenal dengan museum kereta api Ambarawa. Beruntung Pandanwangi dijadwalkan berhenti di sini sehingga para penumpang mempunyai cukup waktu mengagumi stasiun besar yang sudah berumur 131 tahun itu.

            Selain kondisi stasiun yang terawat, bekas jalur ke arah Ambrawa lewat Bringin dan Tuntang juga masih terlihat jelas. Walaupun sudah ditumbuhi semak belukar, jalur yang dibuka 21 mei 1873 ini masih relatif utuh. Bayangkan, bila kelak rencana rehabilitasi jalur Kedungjati ke Ambarawa sungguh terlaksana, para turis mancanegara atau domestik bisa mencapai museum kereta api Ambarawa dari Semarang dengan menggunakan kereta uap. Sayang, para penumpang tidak bisa berlama-lama di Kedungjati karena Pandanwangi harus melanjutkan perjalanan.

 

Jalur bersejarah yang terlantar

            Meninggalkan Kedungjati, perjalanan menjadi kurang menyenangkan. Kereta berguncang keras disertai suara bising. Ternyata kondisi rel yang sangat buruk. Kondisi rel, bantalan, dan batu ballast sangat memprihatinkan. Bantalan kayu dan besi ada yang patah, bengkok, bahkan ada beberapa yang baut pengikat relnya hilang. Batu ballast tidak terlihat di beberapa titik, sehingga rel langsung menempel saja ke tanah. Masinis dipaksa bekerja keras mengendalikan kereta karena disamping keadaan rel yang sangat buruk, jalur ini juga banyak terdapat tanjakan sementara kereta tidak boleh dipacu. Pemerintah dalam hal ini Departemen Perhubungan sebagai instansi yang berwenang merawat jalan rel, harus lebih memperhatikan jalur yang sangat bersejarah ini. Seharusnya perbaikan harus segera dilakukan karena adanya potensi untuk pengembangan sebagai jalur pariwisata mengingat 15 stasiun tua di sepanjang Semarang sampai Solo mempunyai daya tarik tersendiri.

 

Gundih, simpangan bersejarah

            Perjalanan yang tidak enak ini berakhir di stasiun Gundih. Sebuah stasiun simpangan di mana jalur dari Gambringan dan dari Brumbung bertemu. Stasiun Gundih juga menyimpan sejarah tersendiri. Di tempat ini adalah awal dimulainya jalur dengan 3 rel, yaitu rel lebar 1435 mm ditambah sebuah rel lagi di dalamnya sehingga kereta dengan lebar sepur 1067 mm bisa melewati jalur itu. Hal ini harus dilakukan supaya perjalanan kereta dari dua arah tidak terhambat, karena pada saat itu rel dari arah Gambringan berukuran 1067 mm sementara dari Brumbung lebar sepurnya 1435 mm. Jalur 3 rel ini terbentang sampai ke stasiun Lempuyangan di Jogja sebelum dibongkar paksa oleh Jepang tahun 1942.

            Kembali Pandanwangi dijadwalkan berhenti di Gundih, sehingga ada kesempatan bagi penumpang menikmati keindahan arsitektur Indisch stasiun ini. Secara keseluruhan kondisinya terawat baik terutama di bagian depan yang baru saja di renovasi. Ruangan inti stasiun masih asli, bahkan jam besar yang dipasang bersamaan dengan pembangunan stasiun berfungsi sempurna, demikian pula perangkat pemindah wesel jenis Alkmaar buatan pabrik Amsterdam juga masih digunakan hingga saat ini.

            Perjalanan menuju Solo masih panjang, sehingga Pandanwangi harus berangkat kembali. Jalur di selatan Gundih kondisinya luar biasa baik, dilengkapi bantalan beton dan rel besar dengan sambungan panjang yang membuat kereta meluncur mulus dan tenang, serta bisa dipacu sampai 80 Km/jam. Pemandangan pun berangsur berubah menjadi sawah yang menghijau dan pepohonan rimbun di sepanjang rel yang berdampingan dengan jalan raya Solo - Purwodadi. Tanpa terasa perjalanan mendekati akhir. Menjelang Solo Balapan, rel terpecah dua, ke timur arah Solo Jebres dan Madiun, dan ke arah Jogja di barat.

 

            Tepat pukul 10.38 KRD Pandanwangi tiba di stasiun Solo Balapan. Saat melangkah keluar kereta rasanya seperti tersadar baru saja melakukan perjalanan dari masa lalu yang luar biasa dan kembali ke masa kini. Namun suasana masa lalu masih membayang bahkan di emplasemen stasiun Solo Balapan yang dibangun oleh NIS. Saat menengok ke arah barat terbentang jalur kereta api ke Jogja yang juga menyimpan sejarah yang tidak kalah penting bagi perkeretaapian Indonesia.


Serunya Mencoba KRDE

September 7, 2006

Uji_statis

Ruang_uji

Driving_cab

Sebuah lompatan teknologi baru saja ditorehkan oleh PT Industri Nasional Kereta Api saat meluncurkan satu set kereta penumpang dengan teknologi Kereta Rel Diesel Elektrik (KRDE). Dengan teknologi yang dikembangkan sendiri, PT INKA mampu menjawab tantangan untuk menyediakan kereta komuter jarak dekat dan menengah. Kebetulan saya adalah satu dari sedikit orang yang beruntung menyaksikan langsung KRDE di pabriknya saat sedang dilakukan tes statis.

Interior

Diesel

Boogie

KRDE ini menggunakan car body dari KRL buatan Holec/Bombardier yang sempat terendam banjir di Jakarta beberapa tahun lalu. Setelah sekian lama terbengkalai, maka diambil inisiatif untuk menggunakannya sebagai cikal bakal KRDE. Para teknisi INKA pun mulai membenahi rangkaian KRL bekas ini dan menyulapnya menjadi kereta yang sama sekali baru. Dengan menggunakan mesin diesel buatan Cummins dan alternator Toshiba, KRDE ini cukup mempuni dengan tenaga 1500 Hp yang dikontrol oleh komputer. Selain itu KRDE juga dilengkapi dengan bolsterless bogie yang dapat meredam guncangan dengan mantap. Sayangnya saat itu saya tidak bisa mencoba performa KRDE secara langsung karena belum resmi diluncurkan.

Lempuyangan

Klaten

Driving_cab2

Bareng

Tapi kesempatan itu datang juga. KRDE akhirnya diresmikan sebagai rangkaian Prambanan Ekspres yang melayani kota Jogja dan Solo. Tanpa membuang waktu saya memutuskan mencoba KRDE buatan INKA ini. Performa awalnya tidak mengecewakan, tanjakan antara stasiun Lempuyangan dan stasiun Maguwo dilewati dengan mudah. Prambanan Ekspres berhenti sejenak di Stasiun Klaten dan masinis yang ramah menawari saya untuk ikut di dalam kabin. Tentu saja saya senang sekali karena bisa memantau performa KRDE dengan mudah. Kereta meluncur lagi menuju ke Palur.

Speeding

Tugu

Kembali dari Palur pak masinis ingin menunjukkan performa KRDE sesungguhnya kepada saya. Dia memacu KRDE lebih cepat lagi. Speedometer digital bergerak terus 98… 99… 100… 101… 102… 103… Kereta tak terguncang sedikit pun. Rupanya bolsterless bogie bekerja sempurna. Speedometer bergerak terus 104… 105… dan semua sistem mendadak mati. Pak masinis segera me-restart komputer dan semua kembali normal. Rupanya KRDE ini dilengkapi dengan pembatas kecepatan (speed limiter) yang segera bekerja saat kereta bergerak terlalu cepat. Akhirnya KRDE tiba kembali di stasiun Tugu Yogyakarta. Dan terlihat di jalur 6 KRD hidrolis buatan Nippon Sharyo sedang parkir menunggu pemberangkatan sore hari. KRDE tampaknya telah menjadi raja baru di jalur Jogja - Solo.


Menuju Wonogiri

August 25, 2006

Pws

Romb1

Romb2

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 08.00 ketika rombongan kami turun dari Senja Bengawan yang membawa kami dari St. Lempuyangan Yogyakarta ke St. Purwosari di kota Solo. Hari minggu yang cerah menyambut kami dan akan mengiringi perjalanan singkat ke Wonogiri dengan kereta api. Ke Wonogiri dengan kereta api? Masih ada orang yang bertanya-tanya adakah kereta menuju Wonogiri. Ternyata ada, dan cukup unik. Karena jalur kereta ke Wonogiri ini adalah satu-satunya jalur rel yang melewati dalam kota yang masih tersisa di Indonesia. Jalur kereta ini akan menembus keramaian jalan Slamet Riyadi di jantung kota Solo.

Dateng1

Dateng2

Langsir

Setelah menunggu sekitar setengah jam, rangkaian kereta yang kami tunggu pun tiba. Dengan formasi 2 kereta kelas ekonomi yang dihela oleh lok BB30003 buatan Krupp siap mengantar kami ke Wonogiri. Kereta datang dari arah Solo Balapan, karenanya posisi lok harus ditukar ke sisi yang lain. Rekan-rekan tampak antusias membantu gerakan langsir itu. Sementara ada yang membantu, ada juga yang sibuk mengambil foto-foto. Selesai gerakan langsir dilakukan, kami bergegas memasuki kereta. Ada yang memilih di dalam kabin masinis, ada yang memilih duduk di dalam kabin kereta yang sepi. Di dalam gerbong ekonomi hanya terlihat sedikit sekali penumpang, mungkin tidak lebih dari 20 orang di dalam kedua kereta. Jadi kami bebas memilih tempat duduk dan bahkan berjalan-jalan di sepanjang gerbong. Akhirnya saya memilih duduk dekat lokomotif jadi tidak terpisah terlalu jauh dari teman-teman yang ada di kabin masinis.

Berangkat

Sinyal_aman

Tak lama kemudian rangkaian siap diberangkatkan. Lok sudah siap, penumpang sudah naik, dan pak PPKA dengan seragam serta topi merah nan gagah memberikan semboyan 40 dan 41 tanda aman kereta berangkat. Di kejauhan terlihat sinyal sudah dibuka. Kereta mulai bergerak perlahan menembus kepadatan perumahan di sekitar St. Purwosari. Tak henti-hentinya masinis membunyikan suling untuk memberitahu kereta akan melintas karena hampir seluruh perlintasan yang akan kami lewati tidak dijaga.

Slamer1

Slamer2

Dengan jantung berdebar kereta yang kami tumpangi perlahan tapi pasti memasuki jalan Slamet Riyadi Solo. Wow, jalan yang sangat padat dan sebuah rangkaian kereta melintas di tengah2nya! Berbagai kejadian membuat geli dan tegang. Seperti saat sebuah mobil memaksa memotong jalan kereta dan nyaris tertabrak tapi malah si supir yang marah-marah. Sementara di dekat benteng Vastenburg ada sebuah sepeda motor yang diparkir merintangi jalan kereta, sehingga kereta harus berhenti sejenak sampai si empunya motor menepikannya.

Solo_kota

Penuh

Akhirnya kami tiba di St. Solo Kota (Sangkrah). Langsung kereta ini diserbu ratusan penumpang yang hendak berwisata ke Wonogiri. Konyolnya ada yang bahkan membawa sepeda masuk ke dalam gerbong. Dalam waktu singkat kereta yang lengang langsung berubah menjadi lautan manusia. Pengamen, lansia, sampai ABG ikut menyerbu ke dalam kereta yang berjalan tergoncang-goncang karena kondisi rel yang buruk. Kereta pun melalui sejumlah halte dan bertambah pula jumlah penumpang.

Sukoharjo

Pasarnguter

Di stasiun Sukoharjo dan Pasar Nguter sejumlah penumpang turun. Akhirnya kami bisa sedikit bernapas lega. Namun perjalanan menuju Wonogiri masih lumayan jauh. Kembali kereta bergerak terombang ambing mirip perahu tapi terus saja pak masinis memacu lokomotif sambil terus membunyikan suling semboyan 35 karena hampir seluruh perlintasan yang kami lewati memang tidak berpintu sama sekali.

Wonogiri1

Wonogiri2

Langsir_wonogiri_1

Ke_baturetno

Tera_tiket

Tepat 1,5 jam dari berangkat kami pun tiba di Wonogiri. Sebuah stasiun kecil yang dibangun pada sekitar tahun 1920-an dan masih bertahan tegak sama seperti aslinya sampai hari ini. Sebenarnya dulu jalur rel yang melewati Wonogiri ini mencapai ke kota Baturetno. Namun karena pembangunan waduk Gajah Mungkur, maka jalur ini terputus karena jalur rel tergenang air waduk. Setibanya di Wonogiri, lokomotif kembali di langsir untuk bersiap kembali ke Solo. Dan setelah makan siang dan menikmati teriknya matahari kota Wonogiri, tak lupa kami menyempatkan membeli tiket di St. Wonogiri sebagai kenang-kenangan. Uniknya di dalam loket kami menemukan alat tera tiket Edmonson dari jaman SS. Juga ini yang aneh karena stasiun ini pada jaman Hindia Belanda dulu adalah milik NIS sementara alat tera tiketnya milik SS. Mungkin sudah tertukar-tukar tak karuan beberapa saat lalu. Entahlah apa yang terjadi, tapi pokoknya perjalanan kami ke Wonogiri sangat menyenangkan.


Hampir Malam di Jogja

July 31, 2006

Prameks1

Prameks

Kereta Prambanan Ekspress terakhir baru saja tiba dari Solo dan menepi di jalur 6. Angin dingin menusuk tulang terasa menggerus kekuatan setiap orang yang berada di bawah atap Stasiun Jogjakarta Tugu. Mesin yang menderu-deru di matikan dan dalam sekejap kesunyian mengambang di atmosfir stasiun yang bergaya art deco itu. Hanya segelintir penumpang saja yang tampak menunggu kereta yang akan datang menjadikan suasana bertambah sunyi dan sepi. Beberapa toko sudah mulai menutup gerainya. Sementara di ujung sebelah sana tampak seorang bapak tua dengan sarungnya telah lelap di atas kursi. Satu-satunya kesibukan yang terlihat ada di dalam ruang PPKA.

Gbms

Sesaat kemudian bel berdentang-dentang menandakan akan adanya kereta yang akan tiba. Sorotan lampu dari arah timur mulai terlihat. Deru lokomotif diesel buatan General Electric tahun 1983 mengguncang suasana dingin stasiun. Derak-derak roda besi menghantam sambungan rel seolah menjadi gempa kecil yang membangunkan nyenyak beberapa pedagang. Namun yang melintas itu adalah kereta Gaya Baru Malam. Sebuah kereta kelas ekonomi, salah satu rangkaian kereta yang dibabtis sendiri oleh Presiden pertama RI Ir. Soekarno selain kereta eksekutif Bima. Kereta kelas ekonomi tidak berhenti di sini dan melaju terus meninggalkan stasiun kembali dalam keheningan. Hanya tatapan seorang PPKA yang mengiringi lajunya sampai tak terlihat lagi oleh mata.

Jaybay

Plka

Tak lama berselang kembali sorot cahaya dari timur muncul kembali. Jayabaya gumamku. Dan benar saja. Kali ini giliran guruh lokomotif diesel General Electric buatan tahun 1977 menggelegar memekakkan telinga. Para pedagang kembali terjaga. Buru-buru mereka menyiapkan dagangan menyambut rejeki yang datang di tengah dinginnya malam. Segera setelah kereta berhenti, mereka menyerbu setiap jendela dengan reka ragam penganan khas Jogja baik untuk di makan atau hanya sekedar oleh-oleh. Waktu berhenti yang singkat itupun dimanfaatkan oleh petugas urusan kereta untuk memeriksa salah satu bogie Jayabaya. Entah ada kerusakan, atau mengganti sepatu rem, atau hanya memeriksa saja. Sambil menggelosor ke dalam kolong kereta, yang tak bisa kubayangkan aromanya, dia mengetuk-ketukkan palunya yang sebesar godam itu. Nah, beres! Mungkin demikian katanya saat melangkah keluar dari kolong laknat itu.

Mutsel

Vendor

Selepas Jayabaya, aku mendengar deruman yang berbeda dari sebelumnya datang dari arah timur. Tak kuragukan lagi itu adalah lokomotif diesel dengan dua tingkat supercharger. Benar saja Mutiara Selatan dengan angkuhnya merangsek masuk stasiun Jogja dikawal lokomotif terkuat di Jawa, kelas CC203. Kembali para pedagang bangkit, melupakan dingin yang menusuk tulang untuk mengais sedikit rejeki yang mungkin terbawa rangkaian kereta yang menuju Bandung dari Surabaya ini. Usai berlalunya Mutiara Selatan, dingin tak tertahankan lagi memaksaku untuk beranjak pergi.

Hampir malam di Jogja, ketika keretaku tiba…


Melacak Jejak Diponegoro di Fort Rotterdam

July 11, 2006

Tembok batu yang berlumut menjulang setinggi hampir 5 meter menyambut saya yang masih tertegun kagum. Hari ini saya mendapat kesempatan mengunjungi salah satu tujuan wisata di kota Makassar, yaitu Fort Rotterdam (atau benteng Ujung Pandang). Gerbang besar dengan pintu yang terbuat dari kayu seolah menyapa dengan angkuh setiap pengunjung yang masuk.

Segera setelah melewati gerbang dan ruang antara sejauh 15 meter, kita disambut ruang terbuka yang dikelilingi bangunan memanjang yang mungkin dulunya merupakan barak-barak tentara. Salah satu dari ruangan itu merupakan tempat tahanan Pangeran Diponegoro yang dibuang ke Makassar pada tahun 1834. Tanpa diperintah tiba-tiba kaki saya melangkah ke arah kiri, padahal saya sedang menikmati pemandangan yang menakjubkan itu. Menyusuri tembok tua kemudian saya mendaki tangga landai menuju ke sebuah tempat terbuka di atas benteng itu. Saat ini saya berdiri di atas Bastion Bone yang menghadap langsung ke arah pantai Losari. Dari tempat itu pandangan lepas ke arah laut dengan langit membiru tidak terhalang apapun. Terik matahari tidak terasa karena angin laut yang bertiup lumayan kencang membuat badan terasa segar.

Saya pun melanjutkan perjalanan di sepanjang lubang pertahanan di sepanjang tembok benteng yang semula dibangun oleh Tunipalangga Ulaweng, raja Gowa ke 10 pada tahun 1545 sebelum direbut oleh Cornelis Speelman pada tahun 1667. Dengan berjalan menyusuri puncak tembok sebenarnya saya bisa mengelilingi seluruh benteng dari bastion satu ke bastion yang lain, sayangnya tembok sebelah selatan sudah runtuh sehingga perjalanan keliling harus dilanjutkan di atas tanah.

Sebelum meninggalkan benteng yang telah dijadikan museum ini, tak lupa saya mengunjungi ruangan tahanan di mana Pangeran Diponegoro menghabiskan masa pembuangannya di Makassar. Sayangnya ruang itu terkunci rapat. Mungkin pada kunjungan berikutnya saya bisa melihat ke dalam. Matahari makin meninggi mengusik saya untuk segera bergegas. Fort Rotterdam masih berdiri kokoh di belakang saya, menjadi saksi jatuh bangun sebuah bangsa melawan intervensi asing pada masa itu.

Fort_rotterdam

Interior_2

Bastion_bone

Tembok_benteng

Interior2

Tahanan_diponegoro 


Ke Bandung dengan Kereta Presiden

July 3, 2006

Seorang pramugari yang manis dengan senyum ramah menyambut saya di depan pintu kereta. “Pagi mas, bisa saya bawakan tasnya…” Saya menolak dengan halus karena ransel saya tidak berat. Hani namanya, dia menuntun saya masuk ke dalam kereta mewah berpendingin udara. Hari ini untuk pertama kali dalam hidup, mungkin juga terakhir kali, saya mendapatkan kesempatan mencoba kereta Nusantara, satu dari tiga kereta Kepresidenan yang dimiliki PT. Kereta Api. Dua kereta lainnya, Bali dan Toraja, tidak semewah kereta Nusantara ini. Salah seorang teman saya menyewa kereta ini dalam rangka hari ulang tahunnya (wow!). Dia mengeluarkan biaya tujuh juta rupiah untuk perjalanan singkat ke Bandung.

Kereta Nusantara dilengkapi dengan ruang makan yang luas dengan jendela besar di salah satu ujungnya. Kereta ini selalu dirangkai di posisi paling belakang sehingga kita bisa menikmati pemandangan selama perjalanan dari kaca belakang yang sangat luas. Ruang duduknya sangat lega dilengkapi entertainment set bermerek Pioneer dengan Plasma TV yang besar. Ruang tidurnya sangat lega dan cocok buat pasangan yang sedang bulan madu (hmmm…).

Kereta ini dirangkai dengan Argo Gede yang berangkat dari Jakarta pukul 09.30. Serasa raja kami dilayani oleh para crew yang berjumlah 4 orang, mulai dari welcome drink, snack, sampai hiburan yang disiapkan di entertainment set. Perjalanan terasa menyenangkan apalagi saat kami menikmati jalur kereta yang berkelok-kelok mengikuti pegunungan Priangan yang indah. Tiba-tiba semua mendadak gelap. Rupanya kami memasuki terowongan Sasaksaat yang panjangnya nyaris satu kilometer.

Tanpa terasa perjalanan selama 2,5 jam harus berakhir di stasiun Bandung. Kami disambut bagai tamu penting dan ditempatkan di ruang VIP untuk melepas lelah sejenak sebelum melanjutkan acara kami. Hmmm begini rasanya jadi Presiden kalau bepergian dengan kereta api…

Prami

Gambir

Ruang_makan

Ruang_duduk

Jendela

Kamar_tidur

Duduk2

Sasaksaat

Silang


Jatinegara, Pukul Tiga Dini Hari

June 23, 2006

Stasiun Jatinegara bukanlah tempat yang umum bagi seseorang untuk begadang. Namun itulah yang terjadi saat saya tiba di kota ini terlalu pagi. Senja Utama Semarang sampai di Jakarta sekitar jam 02.30. Masih terlalu pagi untuk saya melanjutkan perjalanan pulang menuju rumah. Akhirnya dengan berbekal selembar kertas koran kemarin, saya duduk di lantai peron Stasiun Jatinegara yang sangat kotor dan kumuh.

Di sekitar saya banyak orang senasib yang memilih menunggu pagi daripada harus mengarungi kelamnya Jakarta di tengah kegelapan. Mereka menggeletak begitu rupa tanpa peduli kotor dan bau, tertidur tanpa terganggu kebisingan kereta api yang melintas. Bercampur dengan gelandangan, pengemis, dan anak jalanan yang juga terlelap pulas. Di peron seberang sekelompok pengamen menembangkan salah satu hits milik grup Samson dengan gitar dan suara yang fals.

Kereta berlalu dan berlalu, makin bertumpuk penumpang di peron. Akhirnya sang surya mengintip juga dari balik kegelapan. Ah perut rasanya keroncongan, sepiring nasi hangat dengan sayur labu, tempe, dan tahu menjadi menu sarapan pagi itu. Entah apa yang bisa dikatakan dengan Stasiun Jatinegara. Kumuh? Berantakan? Atau Ramah? Pendatang disambut dengan kehangatannya sementara para penghuni sementara berlindung di bawah kekokohan atapnya.

Kakek_tua

Melaju

Lelap

Baru_tiba

Bengong


Pekalongan : When Love and Hate Collide

June 19, 2006

Apa yang kupikirkan tentang Pekalongan…?! Rasisme dan dendam kesumat SARA. Bukan rahasia lagi kelompok Islam Fundamentalis telah merusak kota penghasil batik di pesisir utara Jawa ini. Lewat teror sistematis dengan alasan agama, mereka mengamuk seluruh pihak yang ada di hadapan mereka. Golongan Kristen, aparat keamanan, dan tentu saja Cina. Kerusuhan terakhir hampir mengusir seluruh populasi keturunan Cina dari kota ini. Pikiran ini terus menghantui saya saat menginjakkan kaki di Stasiun Pekalongan beberapa waktu lalu. Kereta Tawang Jaya yang tiba sekitar pukul 2.30 dini hari mengantarkan saya ke kota yang pernah menjadi salah satu kota dengan reputasi terburuk di negeri ini.

Saat matahari bersinar sirna sudah segala pikiran saya. Kota Pekalongan kini memiliki wajah baru. Sepasang gadis keturunan Cina berjalan dengan santai di sekitar pertokoan Sri Ratu tanpa rasa was-was. Rumah makan Cina yang terkenal dengan Mie Lo-nya hanya berbeda satu jalan saja dengan Rumah Makan Puas di Kampung Arab. Sekarang kita bisa menikmati nikmatnya Kepiting Gemes ala Bung Kombor tanpa takut dilempar bom molotov. Atau membuat tanda salib sebelum makan nasi megono di warung Pak Bon. Inilah semangat baru di Pekalongan. Tidak mudah melupakan luka di masa lampau, tapi waktu telah berubah.

Semangat ini tercermin dari diresmikannya Dopan Mall, sebuah pusat perbelanjaan di dekat terminal Pekalongan. Seolah ingin menghapuskan luka lama, mall ini dirancang dengan menggunakan dua langgam arsitektur, Cina dan Timur Tengah. Akankah ini awal sebuah masa yang baru. Atau cuma sekedar jargon kosong pemerintah tentang pembauran antar suku. Cuma warga Pekalongan yang bisa menjawabnya.

Sudut_arab

Menara_cina

Jendela

Cerita_seru

Nasi_megono

Pulas

Genjot2


Malam Penuh Cahaya di Medan

June 6, 2006

Keindahan kota Medan di waktu malam memang tak ada duanya. Terutama di sekitar Lapangan Merdeka atau yang dahulu dikenal sebagai Esplanade di sebelah barat Stasiun Besar Medan. Di tepi barat lapangan merdeka terbentang Merdeka Walk pusat jajan metropolis yang bertaburan lampu-lampu warna-warni di seluruh pepohonan yang menaunginya. Sambil menikmati hidangan, kita akan dimanjakan pemandangan gedung-gedung tua yang ada di sekelilingnya yang bermandikan cahaya lampu nan indah.

Di ujung selatan ada bekas kantor perkebunan jaman Hindia Belanda. Menyusul berturut ke arah utara, gedung Bank Mandiri, Balai Kota, Bank Indonesia, dan di akhiri Kantor Pos Pusat kota Medan. Puas berkeliling Merdeka Walk, sangat menyenangkan bila kita menyusuri jalan lebih jauh ke selatan. Di daerah Kesawan kita akan disambut dengan jajaran bangunan perkantoran tua. Di daerah ini pula terletak Kesawan Square, sebuah kawasan jajanan lainnya yang juga hanya buka pada malam hari. Di tengah-tengah Kesawan Square terdapat rumah Tjong A Fie, bekas taipan ternama dari Medan. Rumah dengan arsitektur khas cina itu masih berdiri megah membaur dengan meriahnya malam bercahaya di Medan.

Dsm

St_medan

Merdeka

Londonsumatra

Mandiri

Bi

Kantorpos

Kesawan

Makan

Tjongafie


Menuju Rantau Prapat

June 6, 2006

Aktivitas lain di Medan antara lain diisi dengan mencoba KA Penumpang Unggulan Divre I yaitu KA Kinantan. Alasan lain mencoba KA Kinantan adalah karena kereta ini menghubungkan Medan dengan Rantau Prapat yang merupakan kota tujuan terjauh dari Medan yaitu sekitar 275 km. KA Kinantan merupakan KA Eksekutif kelas Satwa yang standformasinya adalah 4 K1 dan 1 KM1. Namun mungkin karena ada kekurangsiapan kondisi pada 2 K1, maka pada pagi itu susunan rangkaian hanya 2 K1 dan 1KM1.

Tepat pukul 08.00 wib, kereta bergerak meninggalkan Stasiun Medan. Interior dalam eksekutif Kinantan tidak terlalu berbeda jauh dengan rekan-rekannya kereta di Jawa. Karena kondisi rel di beberapa ruas yang kurang sempurna, maka beberapa kali kereta terguncang dan terayun-ayun dengan cukup keras. Perjalanan ke Rantau Prapat ditempuh lebih kurang selama 4 jam 38 menit. Kereta ini hanya berhenti di 3 stasiun, yaitu Tebing Tinggi, Kisaran dan Membang Muda.

Ketika tiba di Stasiun Tebing Tinggi dan bermaksud mengambil gambar stasiun, kami diingatkan awak KA untuk berhati-hati karena banyak terjadi peristiwa pencopetan di stasiun ini. Stasiun Tebing Tinggi merupakan stasiun percabangan ke Pematang Siantar. Di stasiun ini ada pula bangunan semacam round house yang nampaknya digunakan untuk gudang penyimpanan peralatan. Di depan round house terdapat turntable yang nampaknya masih dalam kondisi prima. Selepas Tebing Tinggi perhentian berikutnya adalah Kisaran, yang merupakan stasiun percabangan ke Tanjung Balai.

Panorama sepanjang jalur antara Tebingtinggi – Rantau Prapat didominasi oleh tiga scene, yaitu perkebunan kelapa sawit, perkebunan karet dan rawa-rawa. Sesuatu yang tidak lazim terlihat di sepanjang sisi rel di Jawa. Bahkan di beberapa tempat, kami sempat melihat ada pabrik kelapa sawit dan karet di sisi rel. Selama perjalanan di dalam Kinantan, kami tergiur untuk mencoba Nasi Goreng Kinantan karena melihat bentuk paha ayam goreng yang menggoda saat petugas restorasi membawa nasi goreng. Dan ternyata rasanya tidaklah mengecewakan!

Akhirnya di Stasiun Rantau Prapat tepat pada pukul 12.35! Kinantan benar-benar menunjukkan keperkasaannya! Lebih awal daripada waktu yang ditentukan yaitu pukul 12.38. Setibanya di Stasiun Rantau Prapat, kami disambut dengan hangat oleh jajaran staf Stasiun Rantau Prapat.

Setelah berbincang-bincang sejenak dengan jajaran staf Stasiun Rantau Prapat, kami melakukan foto bersama. Selanjutnya dengan didampingi oleh Pak Ginting, Kepala Regu Polsuska Rantau Prapat dan Pak Togatorop, Kepala Resor Jalan, Jembatan dan Bangunan Rantauprapat, kami melihat-lihat lingkungan stasiun dan tak lupa mengambil gambar. Stasiun Rantau Prapat merupakan stasiun kelas I dengan pendapatan yang cukup tinggi di lingkungan PTKA Divre I Sumut karena selain merupakan stasiun pemuatan awal untuk CPO, stasiun ini hanya melayani kereta penumpang kelas eksekutif dan bisnis, karena tidak ada kereta kelas ekonomi tujuan Rantau Prapat.

Setelah puas berkeliling dan mengambil gambar, kami kemudian diajak makan siang di Lapo Karo Simalem oleh Pak Ginting dan Pak Togatorop. Pada sore harinya sekitar pukul 15.25, kami pulang ke Medan.

Interior_1

Tebing_1

Belok_1

Nasgor_1

Kinantan_1

Rantau_1