Leluhur Prameks yang Terlupakan
Seruling keras mengejutkan siapapun yang menanti dengan sabar di pintu perlintasan kereta api Lempuyangan. Prambanan Ekspres pagi dari Yogyakarta dengan warna-warni yang meriah berpacu menuju ke arah Solo. Sementara di waktu yang bersamaan, Prambanan Ekspres terbaru besutan PT. INKA baru saja meninggalkan stasiun Purwosari menuju ke Jogja. Inilah kemewahan yang dimiliki para komuter yang berdiam di antara kota Jogja dan Solo. Dua set kereta diesel yang setia melayani mereka setiap hari tanpa henti. Ribuan penumpang menikmati kesetiaan kereta Prambanan Ekspres, namun di tengah keriuhan sibuknya jalur Jogja - Solo ada yang terlupakan.
Prambanan Ekspres bukanlah kereta komuter pertama yang melayani jalur Jogja dan Solo. Jika ditelisik jauh ke tahun 60-an dan 70-an ada kereta yang bernama Kuda Putih. Bagi para generasi orang tua kita yang pernah tinggal di Jogja dan Solo tentunya tidak asing dengan nama ini. Inilah cikal bakal KRD komuter yang melayani jalur Jogja - Solo pada masa itu. Bahkan KRD Kuda Putih adalah Kereta Rel Diesel pertama yang dimiliki oleh Indonesia.
Dibuat di Jerman oleh Ferrostaal pada pertengahan 1960-an dengan menggunakan mesin General Motor, KRD ini dianugerahi nama-nama tokoh Pandawa Lima. Pada masa jayanya Kuda Putih merupakan favorit bagi para penumpang untuk menempuh Jogja dan Solo. Namun Kuda Putih yang perkasa harus mati muda. Pada pertengahan 1970-an beberapa di antaranya mulai rusak karena tidak adanya suku cadang. Bahkan di sebuah foto yang diambil oleh railfan Inggris Malcolm Wilton-Jones pada tanggal 23 Oktober 1976 di stasiun Tugu ada sepasang Kuda Putih yang harus ditarik oleh lokomotif BB200. Seiring bertambahnya waktu Kuda Putih pun mati perlahan-lahan.
Dipo Lokomotif Solo 2006. Inilah wajah Kuda Putih sekarang. Teronggok tak berdaya berantakan dimakan usia di salah satu sudut dipo lokomotif Solo Balapan. Tersembunyi di antara semak-semak dengan kondisi yang memprihatikan. Dari sekian banyak Kuda Putih yang pernah dimiliki Indonesia, tinggal satu unit yang tersisa. Itu pun saat ini dijadikan gudang dan tempat ganti para pegawai dipo. Sungguh ironis. Di tengah berjayanya Prambanan Ekspres penerusnya, Kuda Putih seperti terlupakan. Dari ribuan komuter yang melintas, adakah satu orang pun yang teringat akan jasanya. Atau paling tidak pernah mendengar namanya dari cerita para orang tua dulu. Tengoklah Kuda Putih sesekali bersama teman, mungkin hati Anda akan tergerak untuk menyelamatkannya. Mungkin…










November 2nd, 2007 at 11:11 pm
Sedikit menambahkan sejarah Prameks, sekitar tahun 1996 Prambanan Ekspres diluncurkan menggunakan 3 gerbong dan Lokomotif CC Senja Utama, krn perkembangan KA Prameks yang jumlahnya meningkat dan keterlambatan KA Senja dari JKT Perumka waktu itu mendatangkan KRD hidrolis, kemudian KRD hidrolis sedikit digantikan oleh KRDE karena sering macet, namun KRD hidrolis skrg masih tetap digunakan ke solo 2x plus ke kutoarjo 2x.
February 20th, 2008 at 8:53 pm
kuda putih bagi saya seperti menggugah masa kecilku…saya selalu naik kuda putih klo berkunjung ke rumah nenek saya di gawok sukoharjo..krn hanya kuda putih yg efektif bagi saya utk mencapai daerah gawok yg kala itu masih sepi dan terpencil..saya selalu kuda putih dari lempuyangan dan turun di stasiun gawok…tp dulu sering mogok..dan sering banget ditarik dgn loko yg berbeda…haahh..nostalgia..thx utk yg udh mengabadikannya dalam foto dan cerita…
October 2nd, 2008 at 11:31 pm
Saya denger KA kuda putih dari nenek saya.. Kebetulan nenek saya juga langganan naek kereta kuda putih.Waktu saya masih SD,saya jadi ingat peristiwa ini.karena penasaran ingin melihat kereta tersebut Kemudian iseng-iseng saya maen di depo kereta semarang jl.pengapon (skarang sudah tutup).nah ditengah kebun kangkung teronggok bangkai kereta kuda putih.Kondisinya masih lumayan.kursi t4 duduk juga masih utuh,ruang masinis panel2 kontrolnya juga masih lengkap.Terakhir saya melihat bangkai kreta kuda putih ada di stasiun poncol semarang.terparkir di samping pintu masuk depo lokomotif poncol semarang.sekarang entah kemana,i dont know..
November 6th, 2008 at 7:16 am
saya adalah orang yang sangat cinta (baca: peduli) dengan kereta api.
kakek (alm) saya adalah seorang masinis “lawas” dari stasiun tugu, beliau sering mengajak saya main di stasiun tugu, jalan-jalan dengan kereta ke solo, wates, bahkan sampai jakarta (sering kali di loko).
seingat saya (kira-kira tahun 80-an) dulu “bangkai” kuda putih berada di stasiun tugu, tepatnya di sebelah selatan dipo lokomotif stasiun tugu, di bawah tanki air. entahlah, tahun berapa mulai dipindahkan ke solo. saat bermain ke stasiun pernah saya bertanya kepada kakek, “kung (saya biasa memanggil kakung pada kakek saya) koq kuda putih sekarang ga jalan lagi?”
Jawabnya, “Kuda putih susah didandani, suku cadangnya susah didapat, dan kayaknya mulai kalah dengan angkutan darat yang lain.” Benar juga pikir saya, atau mungkin sering mogok, tidak tepat waktu, dan tidak bisa berhenti di sembarang tempat menjadi alasan tepatnya? wallahualam.
at least saya sudah pernah naik kuda putih. perasaan saya waktu itu (perasaan cah cilik………) kayaknya nyaman naik kuda putih, dibandaing naik kereta yang lain kaya senja ekonomi/utama (waktu itu) misalkan. bahkan mungkin lebih enak dari pada naik pramex (kayaknya lebih anteng kuda putih).
satu pengalaman yang paling mengesankan naik kuda putih. ketika dari rumah sodara di kutoarjo yang jauh dari jalan bus tapi dekat dengan rel kereta api, setelah nyabarang kali bogowonto, kakek saya melihat jam tangan orient kunonya, dan berkata, “Wah nek nyandak iso nyegat kuda putih, ayo le mlaku rada cepet ben iso nyegat kuda putih.” benar saja sesampai di rel kereta, tidak berapa lama kuda putih nongol, dan seperti di duga kereta itu yang mengantarkan kami pulang ke yogya.
March 27th, 2009 at 8:18 am
Seandainya kuda putih di restorasi seperti bon-bon pastinya lebih berguna daripada jadi besi tua jadikan kuda putih sebagai momentum cikal bakal pramexssss di monumennya gitu kira - kira bisa ngak ya