Yuk, Selamatkan Si Bon Bon

Bon-bon. Itulah panggilan kesayangan bagi lokomotif listrik yang kini tersimpan tak terurus di dalam Balai Yasa Manggarai. Lokomotif listrik 202 buatan tahun 1926 besutan pabrik Werkspoor ini tampak terlupakan setelah berjasa melayani para penumpangnya antara Jakarta - Buitenzorg (Bogor) sejak akhir 1920-an sampai pertengahan 1970-an. Dia meringkuk di salah satu sudut, teronggok sendiri di bawah sebuah pohon yang rindang. Bagian dalamnya porak poranda sementara atapnya dipenuhi sampah dedaunan bahkan beberapa tunas tanaman mulai tumbuh di situ. Dindingnya dipenuhi karat dan langsung berantakan saat disentuh. Mungkinkah ini akhir riwayat Bon-bon yang perkasa itu.

Kuno069

Kuno068

Alkisah, menjelang ulang tahun Staatsporwegen (SS) yang ke 50 pada tahun 1925, dipikirkanlah sebuah hadiah bagi perusahaan kereta api terbesar di Hindia Belanda itu. Maka direncanakanlah proyek elektrifikasi sebagai kado pesta emas. Pada tahun 1925 bersamaan dengan diresmikannya stasiun Tanjung Priok yang baru diresmikan pula selesainya proyek elektrifikasi di Batavia. Lalu untuk melengkapi program elektrifikasi ini dipesan pula sejumlah KRL dan lokomotif listrik. Salah satu jenis lokomotif listrik yang dipesan itu adalah kelas 3200 buatan Werkspoor - Heemaf. Dirancang dan diproduksi oleh Werkspoor dengan lisensi Baldwin sementara perlengkapan elektrik dibuat oleh Heemaf atas lisensi Westinghouse.

Kuno067

Kondisi

Demikianlah setelah elektrifikasi diperpanjang sampai ke Bogor, lokomotif listrik ini pun melayani jalur di selatan Batavia yang padat, karena banyaknya penglaju yang tinggal di Bogor namun bekerja di Batavia. Begitu banyak orang yang menikmati jasa lok listrik sampai-sampai mereka memberikan panggilan sayang, Bon-bon. Ya, karena bentuknya yang mirip dengan kotak bon-bon. Selama puluhan tahun lokomotif listrik ini setia melayani jalur ini. Salah satunya adalah nomer 3202. Setelah Indonesia merdeka nomernya pun diganti menjadi 202 dan terus bertugas sampai akhirnya pensiun pertengahan 1970-an. Sejak saat itu lok listrik WH 202 tersimpan di dalam balai yasa Manggarai terlupakan dan termakan jaman.

Periksa

Beruntung WH 202 tidak sempat dihancurkan seperti saudara-saudara yang lain di tangan mafia besi tua. Beruntung pula pada Agustus 2006 sekelompok railfans yang tergabung dalam Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) membentuk Sahabat Bon-bon untuk menyelamatkan lok listrik WH 202 dan menjadikannya monumen. Sambil berlomba melawan mafia besi tua yang ganas mereka melakukan lobby kepada pihak terkait dan turun langsung ke lapangan membersihkan Bon-bon.

Kerja_bakti

Dalam

Bersih

Istirahat

Tanpa kenal lelah mereka bekerja di lapangan di tengah panas terik dan lingkungan kerja yang kotor setiap hari Sabtu. Tanpa dibayar atau mengharapkan bayaran, para railfans dengan sukarela bekerja dan merogoh kocek sendiri untuk menyelamatkan Bon-bon. Disamping bekerja mereka juga membuat situs www.sahabatbonbon.com untuk mengenalkan Bon-bon secara global sambil mengumpulkan donasi dari berbagai pihak. Perjuangan tanpa kenal lelah ini perlahan menuai hasil. Kegiatan ini mulai diliput oleh media massa dan mendapat perhatian dari pejabat penting PT. Kereta Api dan dinas pariwisata DKI. Sumbangan finansial terus mengalir sementara uluran tangan pihak terkait juga mulai berdatangan.

Jalan menyelamatkan Bon-bon masih panjang dan berliku. Setiap bantuan sangat kami butuhkan untuk menyelamatkan salah satu warisan sejarah perkeretaapian di Indonesia. Jika Anda berkenan membantu silahkan kunjungi IRPS Sahabat Bon-bon di www.sahabatbonbon.com hari ini.



Leave a Reply