Menuju Wonogiri
August 25, 2006Jarum jam sudah menunjukkan pukul 08.00 ketika rombongan kami turun dari Senja Bengawan yang membawa kami dari St. Lempuyangan Yogyakarta ke St. Purwosari di kota Solo. Hari minggu yang cerah menyambut kami dan akan mengiringi perjalanan singkat ke Wonogiri dengan kereta api. Ke Wonogiri dengan kereta api? Masih ada orang yang bertanya-tanya adakah kereta menuju Wonogiri. Ternyata ada, dan cukup unik. Karena jalur kereta ke Wonogiri ini adalah satu-satunya jalur rel yang melewati dalam kota yang masih tersisa di Indonesia. Jalur kereta ini akan menembus keramaian jalan Slamet Riyadi di jantung kota Solo.
Setelah menunggu sekitar setengah jam, rangkaian kereta yang kami tunggu pun tiba. Dengan formasi 2 kereta kelas ekonomi yang dihela oleh lok BB30003 buatan Krupp siap mengantar kami ke Wonogiri. Kereta datang dari arah Solo Balapan, karenanya posisi lok harus ditukar ke sisi yang lain. Rekan-rekan tampak antusias membantu gerakan langsir itu. Sementara ada yang membantu, ada juga yang sibuk mengambil foto-foto. Selesai gerakan langsir dilakukan, kami bergegas memasuki kereta. Ada yang memilih di dalam kabin masinis, ada yang memilih duduk di dalam kabin kereta yang sepi. Di dalam gerbong ekonomi hanya terlihat sedikit sekali penumpang, mungkin tidak lebih dari 20 orang di dalam kedua kereta. Jadi kami bebas memilih tempat duduk dan bahkan berjalan-jalan di sepanjang gerbong. Akhirnya saya memilih duduk dekat lokomotif jadi tidak terpisah terlalu jauh dari teman-teman yang ada di kabin masinis.
Tak lama kemudian rangkaian siap diberangkatkan. Lok sudah siap, penumpang sudah naik, dan pak PPKA dengan seragam serta topi merah nan gagah memberikan semboyan 40 dan 41 tanda aman kereta berangkat. Di kejauhan terlihat sinyal sudah dibuka. Kereta mulai bergerak perlahan menembus kepadatan perumahan di sekitar St. Purwosari. Tak henti-hentinya masinis membunyikan suling untuk memberitahu kereta akan melintas karena hampir seluruh perlintasan yang akan kami lewati tidak dijaga.
Dengan jantung berdebar kereta yang kami tumpangi perlahan tapi pasti memasuki jalan Slamet Riyadi Solo. Wow, jalan yang sangat padat dan sebuah rangkaian kereta melintas di tengah2nya! Berbagai kejadian membuat geli dan tegang. Seperti saat sebuah mobil memaksa memotong jalan kereta dan nyaris tertabrak tapi malah si supir yang marah-marah. Sementara di dekat benteng Vastenburg ada sebuah sepeda motor yang diparkir merintangi jalan kereta, sehingga kereta harus berhenti sejenak sampai si empunya motor menepikannya.
Akhirnya kami tiba di St. Solo Kota (Sangkrah). Langsung kereta ini diserbu ratusan penumpang yang hendak berwisata ke Wonogiri. Konyolnya ada yang bahkan membawa sepeda masuk ke dalam gerbong. Dalam waktu singkat kereta yang lengang langsung berubah menjadi lautan manusia. Pengamen, lansia, sampai ABG ikut menyerbu ke dalam kereta yang berjalan tergoncang-goncang karena kondisi rel yang buruk. Kereta pun melalui sejumlah halte dan bertambah pula jumlah penumpang.
Di stasiun Sukoharjo dan Pasar Nguter sejumlah penumpang turun. Akhirnya kami bisa sedikit bernapas lega. Namun perjalanan menuju Wonogiri masih lumayan jauh. Kembali kereta bergerak terombang ambing mirip perahu tapi terus saja pak masinis memacu lokomotif sambil terus membunyikan suling semboyan 35 karena hampir seluruh perlintasan yang kami lewati memang tidak berpintu sama sekali.
Tepat 1,5 jam dari berangkat kami pun tiba di Wonogiri. Sebuah stasiun kecil yang dibangun pada sekitar tahun 1920-an dan masih bertahan tegak sama seperti aslinya sampai hari ini. Sebenarnya dulu jalur rel yang melewati Wonogiri ini mencapai ke kota Baturetno. Namun karena pembangunan waduk Gajah Mungkur, maka jalur ini terputus karena jalur rel tergenang air waduk. Setibanya di Wonogiri, lokomotif kembali di langsir untuk bersiap kembali ke Solo. Dan setelah makan siang dan menikmati teriknya matahari kota Wonogiri, tak lupa kami menyempatkan membeli tiket di St. Wonogiri sebagai kenang-kenangan. Uniknya di dalam loket kami menemukan alat tera tiket Edmonson dari jaman SS. Juga ini yang aneh karena stasiun ini pada jaman Hindia Belanda dulu adalah milik NIS sementara alat tera tiketnya milik SS. Mungkin sudah tertukar-tukar tak karuan beberapa saat lalu. Entahlah apa yang terjadi, tapi pokoknya perjalanan kami ke Wonogiri sangat menyenangkan.
















Posted by spoorsoni