Hampir Malam di Jogja

Prameks1

Prameks

Kereta Prambanan Ekspress terakhir baru saja tiba dari Solo dan menepi di jalur 6. Angin dingin menusuk tulang terasa menggerus kekuatan setiap orang yang berada di bawah atap Stasiun Jogjakarta Tugu. Mesin yang menderu-deru di matikan dan dalam sekejap kesunyian mengambang di atmosfir stasiun yang bergaya art deco itu. Hanya segelintir penumpang saja yang tampak menunggu kereta yang akan datang menjadikan suasana bertambah sunyi dan sepi. Beberapa toko sudah mulai menutup gerainya. Sementara di ujung sebelah sana tampak seorang bapak tua dengan sarungnya telah lelap di atas kursi. Satu-satunya kesibukan yang terlihat ada di dalam ruang PPKA.

Gbms

Sesaat kemudian bel berdentang-dentang menandakan akan adanya kereta yang akan tiba. Sorotan lampu dari arah timur mulai terlihat. Deru lokomotif diesel buatan General Electric tahun 1983 mengguncang suasana dingin stasiun. Derak-derak roda besi menghantam sambungan rel seolah menjadi gempa kecil yang membangunkan nyenyak beberapa pedagang. Namun yang melintas itu adalah kereta Gaya Baru Malam. Sebuah kereta kelas ekonomi, salah satu rangkaian kereta yang dibabtis sendiri oleh Presiden pertama RI Ir. Soekarno selain kereta eksekutif Bima. Kereta kelas ekonomi tidak berhenti di sini dan melaju terus meninggalkan stasiun kembali dalam keheningan. Hanya tatapan seorang PPKA yang mengiringi lajunya sampai tak terlihat lagi oleh mata.

Jaybay

Plka

Tak lama berselang kembali sorot cahaya dari timur muncul kembali. Jayabaya gumamku. Dan benar saja. Kali ini giliran guruh lokomotif diesel General Electric buatan tahun 1977 menggelegar memekakkan telinga. Para pedagang kembali terjaga. Buru-buru mereka menyiapkan dagangan menyambut rejeki yang datang di tengah dinginnya malam. Segera setelah kereta berhenti, mereka menyerbu setiap jendela dengan reka ragam penganan khas Jogja baik untuk di makan atau hanya sekedar oleh-oleh. Waktu berhenti yang singkat itupun dimanfaatkan oleh petugas urusan kereta untuk memeriksa salah satu bogie Jayabaya. Entah ada kerusakan, atau mengganti sepatu rem, atau hanya memeriksa saja. Sambil menggelosor ke dalam kolong kereta, yang tak bisa kubayangkan aromanya, dia mengetuk-ketukkan palunya yang sebesar godam itu. Nah, beres! Mungkin demikian katanya saat melangkah keluar dari kolong laknat itu.

Mutsel

Vendor

Selepas Jayabaya, aku mendengar deruman yang berbeda dari sebelumnya datang dari arah timur. Tak kuragukan lagi itu adalah lokomotif diesel dengan dua tingkat supercharger. Benar saja Mutiara Selatan dengan angkuhnya merangsek masuk stasiun Jogja dikawal lokomotif terkuat di Jawa, kelas CC203. Kembali para pedagang bangkit, melupakan dingin yang menusuk tulang untuk mengais sedikit rejeki yang mungkin terbawa rangkaian kereta yang menuju Bandung dari Surabaya ini. Usai berlalunya Mutiara Selatan, dingin tak tertahankan lagi memaksaku untuk beranjak pergi.

Hampir malam di Jogja, ketika keretaku tiba…



One Response to “Hampir Malam di Jogja”

  1.   ArGo DwIpAnGga Says:

    Wacks….Seru banget narasinya. “acungan dua jempol” untuk narasi ini.

Leave a Reply