Hampir Malam di Jogja

July 31, 2006

Prameks1

Prameks

Kereta Prambanan Ekspress terakhir baru saja tiba dari Solo dan menepi di jalur 6. Angin dingin menusuk tulang terasa menggerus kekuatan setiap orang yang berada di bawah atap Stasiun Jogjakarta Tugu. Mesin yang menderu-deru di matikan dan dalam sekejap kesunyian mengambang di atmosfir stasiun yang bergaya art deco itu. Hanya segelintir penumpang saja yang tampak menunggu kereta yang akan datang menjadikan suasana bertambah sunyi dan sepi. Beberapa toko sudah mulai menutup gerainya. Sementara di ujung sebelah sana tampak seorang bapak tua dengan sarungnya telah lelap di atas kursi. Satu-satunya kesibukan yang terlihat ada di dalam ruang PPKA.

Gbms

Sesaat kemudian bel berdentang-dentang menandakan akan adanya kereta yang akan tiba. Sorotan lampu dari arah timur mulai terlihat. Deru lokomotif diesel buatan General Electric tahun 1983 mengguncang suasana dingin stasiun. Derak-derak roda besi menghantam sambungan rel seolah menjadi gempa kecil yang membangunkan nyenyak beberapa pedagang. Namun yang melintas itu adalah kereta Gaya Baru Malam. Sebuah kereta kelas ekonomi, salah satu rangkaian kereta yang dibabtis sendiri oleh Presiden pertama RI Ir. Soekarno selain kereta eksekutif Bima. Kereta kelas ekonomi tidak berhenti di sini dan melaju terus meninggalkan stasiun kembali dalam keheningan. Hanya tatapan seorang PPKA yang mengiringi lajunya sampai tak terlihat lagi oleh mata.

Jaybay

Plka

Tak lama berselang kembali sorot cahaya dari timur muncul kembali. Jayabaya gumamku. Dan benar saja. Kali ini giliran guruh lokomotif diesel General Electric buatan tahun 1977 menggelegar memekakkan telinga. Para pedagang kembali terjaga. Buru-buru mereka menyiapkan dagangan menyambut rejeki yang datang di tengah dinginnya malam. Segera setelah kereta berhenti, mereka menyerbu setiap jendela dengan reka ragam penganan khas Jogja baik untuk di makan atau hanya sekedar oleh-oleh. Waktu berhenti yang singkat itupun dimanfaatkan oleh petugas urusan kereta untuk memeriksa salah satu bogie Jayabaya. Entah ada kerusakan, atau mengganti sepatu rem, atau hanya memeriksa saja. Sambil menggelosor ke dalam kolong kereta, yang tak bisa kubayangkan aromanya, dia mengetuk-ketukkan palunya yang sebesar godam itu. Nah, beres! Mungkin demikian katanya saat melangkah keluar dari kolong laknat itu.

Mutsel

Vendor

Selepas Jayabaya, aku mendengar deruman yang berbeda dari sebelumnya datang dari arah timur. Tak kuragukan lagi itu adalah lokomotif diesel dengan dua tingkat supercharger. Benar saja Mutiara Selatan dengan angkuhnya merangsek masuk stasiun Jogja dikawal lokomotif terkuat di Jawa, kelas CC203. Kembali para pedagang bangkit, melupakan dingin yang menusuk tulang untuk mengais sedikit rejeki yang mungkin terbawa rangkaian kereta yang menuju Bandung dari Surabaya ini. Usai berlalunya Mutiara Selatan, dingin tak tertahankan lagi memaksaku untuk beranjak pergi.

Hampir malam di Jogja, ketika keretaku tiba…


Another Makassar Delicatessen

July 26, 2006

Makassar ternyata tidak cuma terkenal dengan sea food-nya saja. Ada banyak makanan lain yang harus dicicipi. Sayangnya dalam kunjungan saya yang singkat ini, saya tidak sempat mencoba semuanya. Namun dari yang sedikit itu ada beberapa makanan unik yang saya coba.

Mie_titi

Mie_titi2

Salah satunya adalah Mie Titi Panakukkang. Restoran ini konon setiap jam 7 malam sudah sangat sulit mendapatkan tempat duduk karena pengunjungnya selalu membludak. Karena itu kami bergegas untuk berangkat lebih awal agar dapat tempat duduk. Dan ternyata memang benar setelah kami datang, sekitar jam 7 lewat para pengunjung mulai memenuhi restoran Mie Titi. Beruntung kami mendapat tempat dekat dengan dapur yang terletak di bagian depan sehingga bisa melihat proses pembuatan Mie Titi.

Mie_kering

Mie_basah

Gorengan

Nasgor_3

Mie Titi ini termasuk unik. Bentuk dan rasanya mirip dengan Lo Mie, mie kering yang gurih dan renyah disiram kuah kental sayuran dan daging. Namun ada juga Mie Titi basah. Bedanya dengan yang kering, mienya direbus dan disiram kuah kental. Bakso gorengnya juga wajib dicoba. Gurih dan kenyal dan disiram juga dengan kuah kental sebagai bumbunya. Menu andalan lain di restoran ini adalah Nasi Goreng. Berbeda dengan nasi goreng kebanyakan yang kita jumpai di Jawa, nasi goreng Mie Titi ini berwarna merah. Semula saya menduga ini adalah khas restoran ini, tapi ternyata nasi goreng di Makassar memang berwarna merah.

Pangsit

Cakwe

Coto

Keesokan harinya saya diajak untuk mencoba Mie Pangsit khas Makassar. Mie ini sungguh berbeda, dengan taburan babi panggang merah rasanya luar biasa enak. Sebagai pencuci mulut ada cakwe udang yang gurih dan lezat. Masih belum puas, menjelang pulang ke Jakarta, saya menyempatkan diri mencicipi Coto Makassar yang terkenal itu. Wah benar2 puas wisata kuliner di Makassar. Sayang saya belum sempa mencoba Sop Saudara, Pallu Basa, dan tentu saja Sop Konro Karebosi. Mungkin lain kali.


Makang Ikang di Makassar

July 25, 2006

Sea Food! Itulah yang pertama kali melintas dalam pikiran saya saat menginjakkan kaki di Bandara Hasanuddin Ujung Pandang. Memang kota Makassar sangat terkenal dengan masakan dari hasil laut yang terkenal lezat dan segar. Tak butuh waktu lama bagi saya untuk akhirnya mencicipi sea food khas Makassar, karena Bos radio SPFM, Pak Ricky mengajak saya makan siang di restoran favoritnya.

Turi2

Pembakar_ikan

Turi

Restoran itu bernama Turi yang terletak tidak jauh dari pantai Losari. Di tempat itu kita bebas memilih ikan yang hendak dimasak dari box pendingin. Karena saya belum berpengalaman, saya ikut saja dengan ikan yang dipilih. Untuk yang dibakar, pak Ricky menyarankan ikan Titang, sementara yang dibakar bumbu Rica adalah Kerapu. Selain itu kita juga memesan udang bakar dan cumi-cumi goreng tepung.

Sambals

Otak2

Titang_bakar

Ikan_rica

Sementara kita menunggu masakan, dihidangkan di depan kita rangkaian sambal yang beraneka macam. Ada sambal petis, sambal kecap kacang, sambal bawang, sambal tomat kecil, dan dilengkapi dengan irisan mangga muda. Hmmm terbayang lezatnya ikan bakar dengan aneka sambal yang kita racik sendiri. Supaya mulut tidak menganggur, dihidangkan pula otak-otak ikan yang tebal dan gurih. Beda sekali dengan yang ada di Jawa. Akhirnya ikan pun terhidang. Ikan Titang ini dibakar begitu saja tanpa bumbu, walaupun demikian rasa dagingnya saja sudah lezat dan gurih. Cuma sebaiknya kulit ikan kita kupas dulu karena terasa kesat dan kasar sehingga mengurangi kenikmatan makan. Catatan tersendiri diberikan untuk cumi goreng tepung yang konon paling enak seantero Makassar. Cumi goreng yang renyah disiram dengan bumbu mirip kecap dengan rasa manis dan gurih.

Sup_kepiting

Kepiting_super

Surya

Puas dengan ikan bakar, malamnya saya diajak oleh Pak Ricky ke Restoran Surya. Restoran ini adalah restoran mewah yang terkenal dengan menu Supercrab alias Kepiting Super. Begitu membaca menunya, saya membayangkan berapa besar kepiting yang akan disajikan. Sambil menunggu kami disuguhi makanan pembuka sup kepiting dan salad buah. Dan akhirnya saat yang dinantikan tiba, kepiting yang dihidangkan benar-benar berukuran super. Bahkan capitnya saja hampir sebesar tangan saya. Wow malam itu kita makan kepiting sampai kenyang.

Warung_pallumara

Pallumara

Rupanya Pak Ricky sudah mulai tahu hobi saya mencicipi segala macam masakan. Keesokan harinya saya diajak dia ke warung Pallumara Kepala Ikan Kakap merah di dekat Mal Ratu Indah. Masakan ini sebenarnya mirip gule kepala ikan khas restoran Padang. Bedanya terletak pada bumbunya. Kuah Pallumara lebih encer walaupun sama-sama memakai santan, dan ada rasa asam karena jeruk nipis. Wah pokoknya lezat sekali sampai saya tidak sadar telah menghabiskan 1,5 kepala ikan. Hehehe… Makasih ya Pak Ricky atas pencerahannya dan ilmunya tentang masakan Makassar.


Melacak Jejak Diponegoro di Fort Rotterdam

July 11, 2006

Tembok batu yang berlumut menjulang setinggi hampir 5 meter menyambut saya yang masih tertegun kagum. Hari ini saya mendapat kesempatan mengunjungi salah satu tujuan wisata di kota Makassar, yaitu Fort Rotterdam (atau benteng Ujung Pandang). Gerbang besar dengan pintu yang terbuat dari kayu seolah menyapa dengan angkuh setiap pengunjung yang masuk.

Segera setelah melewati gerbang dan ruang antara sejauh 15 meter, kita disambut ruang terbuka yang dikelilingi bangunan memanjang yang mungkin dulunya merupakan barak-barak tentara. Salah satu dari ruangan itu merupakan tempat tahanan Pangeran Diponegoro yang dibuang ke Makassar pada tahun 1834. Tanpa diperintah tiba-tiba kaki saya melangkah ke arah kiri, padahal saya sedang menikmati pemandangan yang menakjubkan itu. Menyusuri tembok tua kemudian saya mendaki tangga landai menuju ke sebuah tempat terbuka di atas benteng itu. Saat ini saya berdiri di atas Bastion Bone yang menghadap langsung ke arah pantai Losari. Dari tempat itu pandangan lepas ke arah laut dengan langit membiru tidak terhalang apapun. Terik matahari tidak terasa karena angin laut yang bertiup lumayan kencang membuat badan terasa segar.

Saya pun melanjutkan perjalanan di sepanjang lubang pertahanan di sepanjang tembok benteng yang semula dibangun oleh Tunipalangga Ulaweng, raja Gowa ke 10 pada tahun 1545 sebelum direbut oleh Cornelis Speelman pada tahun 1667. Dengan berjalan menyusuri puncak tembok sebenarnya saya bisa mengelilingi seluruh benteng dari bastion satu ke bastion yang lain, sayangnya tembok sebelah selatan sudah runtuh sehingga perjalanan keliling harus dilanjutkan di atas tanah.

Sebelum meninggalkan benteng yang telah dijadikan museum ini, tak lupa saya mengunjungi ruangan tahanan di mana Pangeran Diponegoro menghabiskan masa pembuangannya di Makassar. Sayangnya ruang itu terkunci rapat. Mungkin pada kunjungan berikutnya saya bisa melihat ke dalam. Matahari makin meninggi mengusik saya untuk segera bergegas. Fort Rotterdam masih berdiri kokoh di belakang saya, menjadi saksi jatuh bangun sebuah bangsa melawan intervensi asing pada masa itu.

Fort_rotterdam

Interior_2

Bastion_bone

Tembok_benteng

Interior2

Tahanan_diponegoro 


Ke Bandung dengan Kereta Presiden

July 3, 2006

Seorang pramugari yang manis dengan senyum ramah menyambut saya di depan pintu kereta. “Pagi mas, bisa saya bawakan tasnya…” Saya menolak dengan halus karena ransel saya tidak berat. Hani namanya, dia menuntun saya masuk ke dalam kereta mewah berpendingin udara. Hari ini untuk pertama kali dalam hidup, mungkin juga terakhir kali, saya mendapatkan kesempatan mencoba kereta Nusantara, satu dari tiga kereta Kepresidenan yang dimiliki PT. Kereta Api. Dua kereta lainnya, Bali dan Toraja, tidak semewah kereta Nusantara ini. Salah seorang teman saya menyewa kereta ini dalam rangka hari ulang tahunnya (wow!). Dia mengeluarkan biaya tujuh juta rupiah untuk perjalanan singkat ke Bandung.

Kereta Nusantara dilengkapi dengan ruang makan yang luas dengan jendela besar di salah satu ujungnya. Kereta ini selalu dirangkai di posisi paling belakang sehingga kita bisa menikmati pemandangan selama perjalanan dari kaca belakang yang sangat luas. Ruang duduknya sangat lega dilengkapi entertainment set bermerek Pioneer dengan Plasma TV yang besar. Ruang tidurnya sangat lega dan cocok buat pasangan yang sedang bulan madu (hmmm…).

Kereta ini dirangkai dengan Argo Gede yang berangkat dari Jakarta pukul 09.30. Serasa raja kami dilayani oleh para crew yang berjumlah 4 orang, mulai dari welcome drink, snack, sampai hiburan yang disiapkan di entertainment set. Perjalanan terasa menyenangkan apalagi saat kami menikmati jalur kereta yang berkelok-kelok mengikuti pegunungan Priangan yang indah. Tiba-tiba semua mendadak gelap. Rupanya kami memasuki terowongan Sasaksaat yang panjangnya nyaris satu kilometer.

Tanpa terasa perjalanan selama 2,5 jam harus berakhir di stasiun Bandung. Kami disambut bagai tamu penting dan ditempatkan di ruang VIP untuk melepas lelah sejenak sebelum melanjutkan acara kami. Hmmm begini rasanya jadi Presiden kalau bepergian dengan kereta api…

Prami

Gambir

Ruang_makan

Ruang_duduk

Jendela

Kamar_tidur

Duduk2

Sasaksaat

Silang