Pekalongan : When Love and Hate Collide
Apa yang kupikirkan tentang Pekalongan…?! Rasisme dan dendam kesumat SARA. Bukan rahasia lagi kelompok Islam Fundamentalis telah merusak kota penghasil batik di pesisir utara Jawa ini. Lewat teror sistematis dengan alasan agama, mereka mengamuk seluruh pihak yang ada di hadapan mereka. Golongan Kristen, aparat keamanan, dan tentu saja Cina. Kerusuhan terakhir hampir mengusir seluruh populasi keturunan Cina dari kota ini. Pikiran ini terus menghantui saya saat menginjakkan kaki di Stasiun Pekalongan beberapa waktu lalu. Kereta Tawang Jaya yang tiba sekitar pukul 2.30 dini hari mengantarkan saya ke kota yang pernah menjadi salah satu kota dengan reputasi terburuk di negeri ini.
Saat matahari bersinar sirna sudah segala pikiran saya. Kota Pekalongan kini memiliki wajah baru. Sepasang gadis keturunan Cina berjalan dengan santai di sekitar pertokoan Sri Ratu tanpa rasa was-was. Rumah makan Cina yang terkenal dengan Mie Lo-nya hanya berbeda satu jalan saja dengan Rumah Makan Puas di Kampung Arab. Sekarang kita bisa menikmati nikmatnya Kepiting Gemes ala Bung Kombor tanpa takut dilempar bom molotov. Atau membuat tanda salib sebelum makan nasi megono di warung Pak Bon. Inilah semangat baru di Pekalongan. Tidak mudah melupakan luka di masa lampau, tapi waktu telah berubah.
Semangat ini tercermin dari diresmikannya Dopan Mall, sebuah pusat perbelanjaan di dekat terminal Pekalongan. Seolah ingin menghapuskan luka lama, mall ini dirancang dengan menggunakan dua langgam arsitektur, Cina dan Timur Tengah. Akankah ini awal sebuah masa yang baru. Atau cuma sekedar jargon kosong pemerintah tentang pembauran antar suku. Cuma warga Pekalongan yang bisa menjawabnya.


