Jatinegara, Pukul Tiga Dini Hari

Stasiun Jatinegara bukanlah tempat yang umum bagi seseorang untuk begadang. Namun itulah yang terjadi saat saya tiba di kota ini terlalu pagi. Senja Utama Semarang sampai di Jakarta sekitar jam 02.30. Masih terlalu pagi untuk saya melanjutkan perjalanan pulang menuju rumah. Akhirnya dengan berbekal selembar kertas koran kemarin, saya duduk di lantai peron Stasiun Jatinegara yang sangat kotor dan kumuh.

Di sekitar saya banyak orang senasib yang memilih menunggu pagi daripada harus mengarungi kelamnya Jakarta di tengah kegelapan. Mereka menggeletak begitu rupa tanpa peduli kotor dan bau, tertidur tanpa terganggu kebisingan kereta api yang melintas. Bercampur dengan gelandangan, pengemis, dan anak jalanan yang juga terlelap pulas. Di peron seberang sekelompok pengamen menembangkan salah satu hits milik grup Samson dengan gitar dan suara yang fals.

Kereta berlalu dan berlalu, makin bertumpuk penumpang di peron. Akhirnya sang surya mengintip juga dari balik kegelapan. Ah perut rasanya keroncongan, sepiring nasi hangat dengan sayur labu, tempe, dan tahu menjadi menu sarapan pagi itu. Entah apa yang bisa dikatakan dengan Stasiun Jatinegara. Kumuh? Berantakan? Atau Ramah? Pendatang disambut dengan kehangatannya sementara para penghuni sementara berlindung di bawah kekokohan atapnya.

Kakek_tua

Melaju

Lelap

Baru_tiba

Bengong



Leave a Reply