Bumi Mataram Berguncang

June 30, 2006

Tumpukan puing memenuhi pemandangan, sementara kabut debu membuat mata merah dan nafas sesak. Suasana seperti itulah yang bertebaran di sepanjang jalan saat saya menuju ke wilayah Bantul. Gempa berkekuatan 6,3 SR (selama ini di berita dituliskan 5,9 SR) sungguh-sungguh meluluhlantakkan Jogjakarta. Kampung halaman saya ini telah menjadi padang kehancuran. Tak terkecuali rumah eyang saya juga tak luput dari gempuran bencana dan rata dengan tanah.

Posko-posko bantuan dan tenda-tenda darurat bertebaran di kiri kanan jalan. Sementara jauh memasuki kampung, pemandangan makin memelaskan. Semua kembali ke kosong. Tak ada apa pun. Kecuali deretan nisan dari kayu sisa puing yang menandakan kuburan massal. Tidak ada yang bisa saya ceritakan lagi…

Hancur

Hancur2

Hancur3

Tenda

Termenung

Makam

Makam2


Jatinegara, Pukul Tiga Dini Hari

June 23, 2006

Stasiun Jatinegara bukanlah tempat yang umum bagi seseorang untuk begadang. Namun itulah yang terjadi saat saya tiba di kota ini terlalu pagi. Senja Utama Semarang sampai di Jakarta sekitar jam 02.30. Masih terlalu pagi untuk saya melanjutkan perjalanan pulang menuju rumah. Akhirnya dengan berbekal selembar kertas koran kemarin, saya duduk di lantai peron Stasiun Jatinegara yang sangat kotor dan kumuh.

Di sekitar saya banyak orang senasib yang memilih menunggu pagi daripada harus mengarungi kelamnya Jakarta di tengah kegelapan. Mereka menggeletak begitu rupa tanpa peduli kotor dan bau, tertidur tanpa terganggu kebisingan kereta api yang melintas. Bercampur dengan gelandangan, pengemis, dan anak jalanan yang juga terlelap pulas. Di peron seberang sekelompok pengamen menembangkan salah satu hits milik grup Samson dengan gitar dan suara yang fals.

Kereta berlalu dan berlalu, makin bertumpuk penumpang di peron. Akhirnya sang surya mengintip juga dari balik kegelapan. Ah perut rasanya keroncongan, sepiring nasi hangat dengan sayur labu, tempe, dan tahu menjadi menu sarapan pagi itu. Entah apa yang bisa dikatakan dengan Stasiun Jatinegara. Kumuh? Berantakan? Atau Ramah? Pendatang disambut dengan kehangatannya sementara para penghuni sementara berlindung di bawah kekokohan atapnya.

Kakek_tua

Melaju

Lelap

Baru_tiba

Bengong


Pekalongan : When Love and Hate Collide

June 19, 2006

Apa yang kupikirkan tentang Pekalongan…?! Rasisme dan dendam kesumat SARA. Bukan rahasia lagi kelompok Islam Fundamentalis telah merusak kota penghasil batik di pesisir utara Jawa ini. Lewat teror sistematis dengan alasan agama, mereka mengamuk seluruh pihak yang ada di hadapan mereka. Golongan Kristen, aparat keamanan, dan tentu saja Cina. Kerusuhan terakhir hampir mengusir seluruh populasi keturunan Cina dari kota ini. Pikiran ini terus menghantui saya saat menginjakkan kaki di Stasiun Pekalongan beberapa waktu lalu. Kereta Tawang Jaya yang tiba sekitar pukul 2.30 dini hari mengantarkan saya ke kota yang pernah menjadi salah satu kota dengan reputasi terburuk di negeri ini.

Saat matahari bersinar sirna sudah segala pikiran saya. Kota Pekalongan kini memiliki wajah baru. Sepasang gadis keturunan Cina berjalan dengan santai di sekitar pertokoan Sri Ratu tanpa rasa was-was. Rumah makan Cina yang terkenal dengan Mie Lo-nya hanya berbeda satu jalan saja dengan Rumah Makan Puas di Kampung Arab. Sekarang kita bisa menikmati nikmatnya Kepiting Gemes ala Bung Kombor tanpa takut dilempar bom molotov. Atau membuat tanda salib sebelum makan nasi megono di warung Pak Bon. Inilah semangat baru di Pekalongan. Tidak mudah melupakan luka di masa lampau, tapi waktu telah berubah.

Semangat ini tercermin dari diresmikannya Dopan Mall, sebuah pusat perbelanjaan di dekat terminal Pekalongan. Seolah ingin menghapuskan luka lama, mall ini dirancang dengan menggunakan dua langgam arsitektur, Cina dan Timur Tengah. Akankah ini awal sebuah masa yang baru. Atau cuma sekedar jargon kosong pemerintah tentang pembauran antar suku. Cuma warga Pekalongan yang bisa menjawabnya.

Sudut_arab

Menara_cina

Jendela

Cerita_seru

Nasi_megono

Pulas

Genjot2


Semua Enak di Medan

June 10, 2006

Di Medan tak ada makanan yang tidak enak…! Terdengar terlalu berlebihan, namun begitulah kenyataannya. Selama hampir seminggu di Medan terus terang saya gagal menemukan makanan yang tidak membuat mulut saya meledak keenakan. Berbagai makanan yang saya coba membuat saya menempatkan Medan sebagai surga penikmat makanan sejati.

Dan bila Anda termasuk kategori pemakan segala, alias kebal dengan Babi, maka Medan adalah kota yang tepat untuk melampiaskan selera makan Anda. Kita mulai dengan Nasi Campur Medan yang dijajakan di sepanjang jalan Kesawan. Nasi campur Babi ini tidak berbeda dengan yang banyak kita jumpai di Jakarta, namun di sini kita akan menemukan babi panggang basah dan sosis babi yang menjadi lauknya. Sebagai pelengkap kita akan mendapat semangkuk kecil sayur sawi asin dengan potongan darah babi dan daging iga. Hmmm lezat.

Sahabat saya malam itu memesan bakmi campur dan bihun bebek, yang terlihat tidak kalah menggiurkan. Masih penasaran, malam berikutnya kami kembali berburu di kawasan Kesawan Square. Hasilnya kami menemukan Sup Sumsum Langsa dan tentu saja Kwee tiaw Medan yang terkenal itu. Sebagai pencuci mulut es Longan Nata de Coco menjadi teman yang paling pas. Ditemani dengan Pokpai yaitu sejenis lumpia, sungguh sajian pencuci mulut paling nikmat yang pernah saya rasakan. Kami bertiga puas sampai kekenyangaan.

Teman saya yang asli Medan keesokan harinya membawa saya berkeliling di Kampung Keling, sebuah kawasan pemukiman yang dihuni oleh orang-orang keturunan India Tamil. Di sini kami mencoba Martabak khas Medan yang sangat lezat dengan kuah kare sebagai pelengkapnya. Petualangan kami tak berhenti sampai di situ. Kami masih terus memburu Sop Kambing khas kantin Stasiun Besar Medan yang sangat terkenal kelezatannya. Ternyata bukan isapan jempol belaka kalau sop itu memang membuat penikmatnya mabuk kepayang.

Berkunjung ke Sumatera Utara tak lengkap rasanya bila tidak mencoba masakan khas Karo yaitu Saksang dan Babi Panggang. Untuk menikmati makanan ini kami bahkan harus mencobanya di Rantau Prapat sekitar 250 Km Selatan Medan. Hari terakhir di Medan kami pun menyempatkan diri mencoba Soto Medan yang terletak di dekat kampus USU. Rasanya wah! Apalagi dengan sate kerang pedas sebagai pelengkapnya…!

Ini Medan bung…! Dan semua makanan di sini nikmat luar biasa…

Nasi_campur

Mie_campur

Bihun_bebek

Sop_sumsum

Kweetiaw

Es_longan

Pokpai

Sop_kambing

Saksang

Soto_medan


Malam Penuh Cahaya di Medan

June 6, 2006

Keindahan kota Medan di waktu malam memang tak ada duanya. Terutama di sekitar Lapangan Merdeka atau yang dahulu dikenal sebagai Esplanade di sebelah barat Stasiun Besar Medan. Di tepi barat lapangan merdeka terbentang Merdeka Walk pusat jajan metropolis yang bertaburan lampu-lampu warna-warni di seluruh pepohonan yang menaunginya. Sambil menikmati hidangan, kita akan dimanjakan pemandangan gedung-gedung tua yang ada di sekelilingnya yang bermandikan cahaya lampu nan indah.

Di ujung selatan ada bekas kantor perkebunan jaman Hindia Belanda. Menyusul berturut ke arah utara, gedung Bank Mandiri, Balai Kota, Bank Indonesia, dan di akhiri Kantor Pos Pusat kota Medan. Puas berkeliling Merdeka Walk, sangat menyenangkan bila kita menyusuri jalan lebih jauh ke selatan. Di daerah Kesawan kita akan disambut dengan jajaran bangunan perkantoran tua. Di daerah ini pula terletak Kesawan Square, sebuah kawasan jajanan lainnya yang juga hanya buka pada malam hari. Di tengah-tengah Kesawan Square terdapat rumah Tjong A Fie, bekas taipan ternama dari Medan. Rumah dengan arsitektur khas cina itu masih berdiri megah membaur dengan meriahnya malam bercahaya di Medan.

Dsm

St_medan

Merdeka

Londonsumatra

Mandiri

Bi

Kantorpos

Kesawan

Makan

Tjongafie


Menuju Rantau Prapat

June 6, 2006

Aktivitas lain di Medan antara lain diisi dengan mencoba KA Penumpang Unggulan Divre I yaitu KA Kinantan. Alasan lain mencoba KA Kinantan adalah karena kereta ini menghubungkan Medan dengan Rantau Prapat yang merupakan kota tujuan terjauh dari Medan yaitu sekitar 275 km. KA Kinantan merupakan KA Eksekutif kelas Satwa yang standformasinya adalah 4 K1 dan 1 KM1. Namun mungkin karena ada kekurangsiapan kondisi pada 2 K1, maka pada pagi itu susunan rangkaian hanya 2 K1 dan 1KM1.

Tepat pukul 08.00 wib, kereta bergerak meninggalkan Stasiun Medan. Interior dalam eksekutif Kinantan tidak terlalu berbeda jauh dengan rekan-rekannya kereta di Jawa. Karena kondisi rel di beberapa ruas yang kurang sempurna, maka beberapa kali kereta terguncang dan terayun-ayun dengan cukup keras. Perjalanan ke Rantau Prapat ditempuh lebih kurang selama 4 jam 38 menit. Kereta ini hanya berhenti di 3 stasiun, yaitu Tebing Tinggi, Kisaran dan Membang Muda.

Ketika tiba di Stasiun Tebing Tinggi dan bermaksud mengambil gambar stasiun, kami diingatkan awak KA untuk berhati-hati karena banyak terjadi peristiwa pencopetan di stasiun ini. Stasiun Tebing Tinggi merupakan stasiun percabangan ke Pematang Siantar. Di stasiun ini ada pula bangunan semacam round house yang nampaknya digunakan untuk gudang penyimpanan peralatan. Di depan round house terdapat turntable yang nampaknya masih dalam kondisi prima. Selepas Tebing Tinggi perhentian berikutnya adalah Kisaran, yang merupakan stasiun percabangan ke Tanjung Balai.

Panorama sepanjang jalur antara Tebingtinggi – Rantau Prapat didominasi oleh tiga scene, yaitu perkebunan kelapa sawit, perkebunan karet dan rawa-rawa. Sesuatu yang tidak lazim terlihat di sepanjang sisi rel di Jawa. Bahkan di beberapa tempat, kami sempat melihat ada pabrik kelapa sawit dan karet di sisi rel. Selama perjalanan di dalam Kinantan, kami tergiur untuk mencoba Nasi Goreng Kinantan karena melihat bentuk paha ayam goreng yang menggoda saat petugas restorasi membawa nasi goreng. Dan ternyata rasanya tidaklah mengecewakan!

Akhirnya di Stasiun Rantau Prapat tepat pada pukul 12.35! Kinantan benar-benar menunjukkan keperkasaannya! Lebih awal daripada waktu yang ditentukan yaitu pukul 12.38. Setibanya di Stasiun Rantau Prapat, kami disambut dengan hangat oleh jajaran staf Stasiun Rantau Prapat.

Setelah berbincang-bincang sejenak dengan jajaran staf Stasiun Rantau Prapat, kami melakukan foto bersama. Selanjutnya dengan didampingi oleh Pak Ginting, Kepala Regu Polsuska Rantau Prapat dan Pak Togatorop, Kepala Resor Jalan, Jembatan dan Bangunan Rantauprapat, kami melihat-lihat lingkungan stasiun dan tak lupa mengambil gambar. Stasiun Rantau Prapat merupakan stasiun kelas I dengan pendapatan yang cukup tinggi di lingkungan PTKA Divre I Sumut karena selain merupakan stasiun pemuatan awal untuk CPO, stasiun ini hanya melayani kereta penumpang kelas eksekutif dan bisnis, karena tidak ada kereta kelas ekonomi tujuan Rantau Prapat.

Setelah puas berkeliling dan mengambil gambar, kami kemudian diajak makan siang di Lapo Karo Simalem oleh Pak Ginting dan Pak Togatorop. Pada sore harinya sekitar pukul 15.25, kami pulang ke Medan.

Interior_1

Tebing_1

Belok_1

Nasgor_1

Kinantan_1

Rantau_1


Labuhan Ibu Kota Tua Deli

June 6, 2006

Bertandang ke Medan tak lengkap rasanya bila tak berkunjung ke Labuhan. Sebuah kota kecil 20 Km utara Medanyang merupakan Ibukota pertama dari Kesultanan Deli. Labuhan ini didirikan pada tahun 1669 oleh Panglima Perunggit yang memproklamirkan kemerdekaan Kesultanan Deli atas Aceh. Di kotaini kabarnya banyak sekali bangunan tua, kampung pecinan, dan vihara pertama yang didirikan di wilayah Deli. Konon istilah Cina Medanuntuk kaum keturunan yang berasal dari Sumatera Utara berasal dari kaum pendatang Cina yang mendiami wilayah ini yang kelak di kemudian hari bermigrasi ke Medan.

Untuk mencapai Labuhan sebenarnya cukup mudah mengingat kota ini terletak di jalur jalan utama yang menghubungkan Medan dengan pelabuhan Belawan. Namun rasanya kurang afdol kalau kita tidak mencoba jalur kereta api yang menghubungkan Medan dengan Belawan yang melewati kota Labuhan. Setelah kasak-kusuk mengumpulkan informasi dan dibantu oleh Kepala Stasiun Besar Medan Bapak Bachtiar Sihite, kami diberitahu bahwa hanya kereta barang yang melalui jalur ini. Rangkaian pengangkut CPO/Minyak Sawit Mentah dengan tujuan akhir Belawan/Ujung Baru, sementara rangkaian BBM Pertamina berakhir di Dipo Pertamina Labuhan. Bapak PPKA yang kami hubungi juga tidak bisa memberitahu dengan pasti jadwal keberangkatan kereta barang dari stasiun Medan. Karena tergantung dari jadwal kedatangan dari Rantau Prapat. Akhirnya kami mendapat informasi akan ada rangkaian BBM menuju Labuhan yang diperkirakan berangkat jam 15.00.

Tunggu punya tunggu sampai hampir jam 16.00 tidak ada tanda-tanda ada kereta ke arah utara. Akhirnya kami diberitahu akan ada Loks (Lok Sendiri) yang bertugas menjemput rangkaian BBM di Belawan. Mata kami yang semula terkantuk-kantuk karena terlalu lama menunggu mendadak menjadi segar. Tanpa membuang waktu kami bersiap di peron 2 dan dari kejauhan tampak sebuah lok BB30602 sedang langsir. Setelah mendapat ijin dari crew dengan menunjukkan surat T 23, kami pun diijinkan untuk ikut di dalam kabin masinis.

Selepas stasiun Pulu Brayan perjalanan jauh dari menyenangkan. Bantalan kayu yang sudah lapuk dan patah di sana-sini ditambah rel R 25 menjadikan kereta berguncang-guncang walaupun berjalan lambat. Kami tidak bisa membayangkan kalau setiap hari jalur ini dilewati rangkaian BBm dan CPO yang sangat berat. Menjelang stasiun Labuhan kondisi lintasan berangsur membaik. Bantalan beton dan rel R 42 telah terpasang rapi sampai stasiun Belawan. Kami pun mengakhiri perjalanan di stasiun yang lebih mirip dengan gereja ini.

Inilah stasiun Labuhan. Sebuah stasiun dengan langgam Art Deco yang kental. Mengelilingi stasiun ini membuat mulut tidak henti-hentinya berdecak kagum. Bangunan yang masih kokoh terawat, sampai ke setiap detail ornamen-nya nampak begitu indah tanpa ada cacat yang berarti. Puas berkeliling stasiun, kami menjelajah jalan-jalan kecil di pecinan yang dipenuhi bangunan-bangunan ruko tua. Di ujung jalan kami bahkan menemui sebuah vihara yang tampak sudah cukup kuno. Inikah yang dimaksud vihara tertua di Deli itu? Sayangnya tak ada orang yang bisa kami konfirmasi.

Matahari sudah condong ke barat saat kami mulai meneruskan dengan menggunakan angkot menuju tujuan akhir kami Stasiun Belawan. Cukup 10 menit saja dari Labuhan kami pun tiba di Belawan.

Labuhanst_2

Labuhan1_2

Labuhanrm_2

Labuhanrm2_1

Labuhanvh_1