Kereta Sultan Deli di Pulubrayan

Keberadaan Kota Medan tentu saja tidak dapat dipisahkan dengan kehadiran Kesultanan Deli. Kesultanan yang pernah menjadi salah satu kesultanan besar di Sumatera itu pernah beribukota di kota yang semula sebuah kampung kecil di tepi Sei Deli dan Sei Babura yang dibangun oleh Guru Patimpus, seorang Karo keturunan Raja Singa Mahraja, pada tahun 1590. Kesultanan Deli yang merdeka dari Aceh dan Siak pada tahun 1861 ini, di masa jayanya adalah produsen tembakau paling terkenal di Hindia Belanda dan menjadi tulang punggung perekonomian kesultanan pada masa itu.

Sisa-sisa kejayaan itu masih nampak sampai sekarang di tengah kebisingan dan hiruk pikuk kota Medan yang telah menjadi kota metropolis modern. Istana Maimun tegak berdiri di tengah kepungan Mall dan Plaza, sementara Mesjid Raya Medan yang pada tahun ini genap berusia seabad masih dapat kita kagumi kemegahannya. Namun dari sekian banyak peninggalan Kesultanan Deli, ada satu lagi peninggalan penting yang terlupakan.

 

Tidak banyak orang Medan yang mengetahui tentang keberadaan gerbong kereta api (kalau kita sebut kereta saja bisa disalahtafsirkan sebagai sepeda motor) Kesultanan Deli. Sahabat saya yang orang Medan asli sampai mengerutkan kening karena dia tidak pernah mendengar keberadaan kereta Sultan Deli. Tentu saja tidak banyak orang tahu, karena kereta ini berada di Pulu (Pulo?) Brayan, 5 Km di sebelah utara kota Medan. Untuk menambah kompleksitas, kereta ini tersembunyi di dalam kompleks Balai Yasa Pulu Brayan sekitar 1 Km ke barat pusat kota Pulu Brayan. Begitu menginjakkan kaki di dalam kompleks tidak serta merta kita menjumpai kereta tersebut karena tersimpan di salah satu dari empat gedung kerja raksasa di sana.

 

 

 

 

Kehadiran kami yang ditemani petinggi Balai Yasa dan Kahumas PT. Kereta Api Divisi Regional 1 menarik perhatian para pekerja, yang sejenak menghentikan kegiatan mereka untuk memperhatikan kami. Setelah melewati los-los kerja akhirnya mata kami tertumbuk pada sebuah kereta yang terbuat dari kayu di salah satu sudut gedung. Dengan cat warna putih dipadu garis hijau, kereta itu nampak bersinar dibandingkan gerbong-gerbong dan gerobak rongsokan di sekitarnya. Memang agak sedikit kotor, namun tidak mengurangi keanggunan dan kemegahannya. Kami tidak membuang waktu lagi dan segera mengambil gambar dari berbagai sudut sebanyak-banyaknya.

 

 

 

Bapak Hendra dari Balai Yasa Pulu Brayan dengan bangga menunjukkan setiap detail kereta yang masih dalam kondisi terawat. Boogie tua dengan cap DSM tampak mengkilat tertimpa sinar lampu blitz kami. Sementara kemewahan kereta ini tampak dari kaca jendela dua lapis yang salah satu lapisannya digrafir dengan logo DSM. Di bagian tengah kereta kaca jendela digrafir dengan lambang Kesultanan Deli.

 

 

 

Seorang teknisi datang tergopoh-gopoh sambil membawa alat pembuka kunci. Kami menahan nafas sejenak menantikan apa yang ada di balik pintu-pintu kayu nan kokoh itu. Saya kebagian terakhir memasuki kereta. Dan apa yang saya lihat adalah suatu hal yang luar biasa. Interior kereta tua yang dilapisi kayu yang dipelitur rapi dan dilengkapi sejumlah lampu antik dengan bingkai terbuat dari kuningan. Satu set perabotan meja dan kursi dari kayu melengkapi ruangan duduk dengan kaca jendela yang luas di salah satu ujungnya itu. Seluruh permukaan kursi dilapisi busa empuk dibungkus kain berwarna krem yang lembut. Sebuah kemewahan klasik yang menyenangkan.

 

 

 

Kami bergerak lebih jauh lagi ke dalam kereta yang bak hotel berjalan ini. Di balik ruang duduk tersedia ruang sholat, kamar tidur mini, dapur, dan kamar mandi. Sementara di ujung kereta tersedia ruang duduk kecil. Konon ruang ini diperuntukkan bagi penjaga Sultan yang akan mengawal sepanjang perjalanan. Saat turun dari kereta, saya mengamati sekali lagi kereta klasik berwarna putih dan hijau itu dan membayangkan warna asli kereta Kesultanan Deli itu. Sayangnya di buku De Deli Spoorweg Maatschapij karangan Ir. Meijer, foto kereta itu dalam warna aslinya masih hitam putih. Namun demikian keanggunan dan kemewahan kereta itu masih bisa dirasakan sampai sekarang.

 

 

 

Saat ini kereta Sultan Deli itu digunakan untuk kereta inspeksi PT. Kereta Api Divre 1 dan sangat jarang dioperasikan. Sampai-sampai seorang teknisi berseloroh kalau kereta ini walau berumur tua jarak yang ditempuhnya tidak sebanyak kereta penumpang modern yang lebih baru. Sementara rekannya yang lebih muda menimpali bahwa sekarang setiap orang bisa merasakan menjadi Sultan Deli dengan menaiki kereta ini. Saya tertawa dalam hati karena sempat terlintas pikiran itu. Ya, hari ini saya telah jadi ‘Sultan Deli’ selama setengah jam saja.

 

 

 

Kebayoran, 9 Mei 2006

 

Sultan_1_1 

 

Sultan_2_3

 

 

 

 

 

 

 

 

Sultan_7


Leave a Reply