Raksasa Yang Terlupakan di Gemerlapnya Pesta Emas KAA

May 17, 2005

              Hari masih pagi benar, namun di dalam dipo lokomotif Cirebon sudah terlihat kesibukan para teknisi mempersiapkan sebuah lok, yang akan dipakai sebagai kereta administrasi. Kereta yang akan menempuh jarak 127 Km antara Cirebon sampai Tanjung Rasa ini, bertugas mengambil uang pemasukan dan menyetor gaji pegawai di 18 stasiun yang akan dilewatinya. Seperti biasa lok yang dipersiapkan adalah CC20015, lok terakhir yang masih hidup dari keluarga lokomotif diesel pertama di Indonesia yaitu seri CC200. Tidak banyak yang mengetahui bahwa 50 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1955, lok seri CC200 adalah lok yang bertugas menarik kereta delegasi Konferensi Asia Afrika di Bandung. Jauh dari segala keriuhan dan kehebohan persiapan pesta emas KAA, CC20015, nampak sendirian dan terlantar. Bersama dua saudaranya yang sudah meregang nyawa, CC20008 dan CC20009, CC20015 harus menjalani sisa-sisa hari tua di dalam dipo lokomotif Cirebon, seolah terhapuskan dari catatan sejarah KAA. Milyaran rupiah yang dikeluarkan untuk membangun tol Cipularang, tidak sesen pun dinikmati CC20015, hingga harus menjadi lok kas, predikat yang diperoleh karena menjadi kereta administrasi, untuk menghidupi dirinya sendiri. Sungguh raksasa yang terlupakan.

          CC200 adalah lokomotif diesel pertama yang hadir di Indonesia, dan menandai dimulaianya era dieselisasi yang perlahan menggantikan kejayaan lokomotif uap. Hadir di tahun 1953, CC200, yang nama aslinya UM 106T, dibuat oleh salah satu produsen lokomotif raksasa Amerika, General Electric (GE). Kedatangan 27 unit CC200 langsung menghadirkan lompatan teknologi perkeretaapian pada masa itu. Lok yang dilengkapi dengan kabin masinis terlindungi dengan bahan tahan api ini, memang menjadi kebanggaan baru Djawatan Kereta Api Indonesia, dan berhasil menepis image lokomotif yang kotor, kumuh, rumit, dan kuno. CC200 hadir dengan tampilan bodi yang streamline  berkesan aerodinamis, dipadu warna krem dan hijau yang segar. Warna ini kelak akan dipakai oleh seluruh lokomotif di jajaran Perusahaan Jawatan Kereta Api. Dilengkapi dua kabin masinis di kedua ujungnya, yang juga merupakan suatu hal baru pada masa itu, membuat masinis mempunyai pandangan yang lebih luas. CC200 juga tidak perlu diputar karena kedua ujungnya bisa menjadi bagian depan, masinis cukup berpindah dari kabin di ujung satu ke ujung yang lain, suatu kepraktisan yang tidak bisa ditemui di lok uap.

          Ditenagai mesin diesel ALCO 244E, 12 silinder 4 tak dengan supercharger yang sanggup memuntahkan daya 1600 dk dan diteruskan ke 6 motor traksi seri GE-761 untuk menggerakkan CC200 seberat 96 ton sampai kecepatan maksimum 100 Km/jam. Inilah lokomotif terkuat dan termodern yang pernah dimiliki Indonesia pada masa itu, sehingga wajar saja CC200 dipercaya menarik rangkaian kereta delegasi KAA dari Jakarta menuju Bandung. Sebuah tanggung jawab besar, mengingat kesuksesan konferensi terbesar pasca kemerdekaan itu ada di pundak lok ini.

          CC200 identik dengan Daerah Operasi (Daop) 3 Cirebon, bahkan dianggap sebagai maskot dipo Cirebon karena sudah mengabdi di tempat ini selama lebih dari 20 tahun. Setelah menjelajah seluruh Jawa, dipo Cirebon, seperti ditakdirkan untuk menjadi persinggahan terakhir CC200 di ujung masa pengabdiannya. Namun yang sangat disayangkan kondisinya saat ini terbilang sangat menyedihkan dan sudah nyaris tidak layak operasional. Hal ini dapat dimaklumi karena kantor pusat traksi PT Kereta Api di Bandung sudah tidak mencantumkan CC200 dalam jadwal perawatan. Kalaupun ada yang masih beroperasi, itu hasil kerja keras dan kreatifitas para staf dipo Cirebon dengan biaya Daop 3 sendiri. Saat ini tinggal tersisa 3 unit CC200, dan bila tidak segera diselamatkan akan segera menyusul 24 unit lainnya yang raib tak bersisa. Bahkan ketika dilacak sampai ke Balai Yasa Lokomotif Pengok, Yogyakarta, semua bangkai CC200 sudah tak berbekas lagi. Lebih mengenaskan, CC200 dengan kondisi terbaik dari yang lain, yaitu CC20026, pernah dikirim ke Pengok untuk menjalani perawatan pada tahun 1990-an. Namun CC20026 tidak pernah kembali lagi ke Cirebon, karena langsung dipereteli dan dibesituakan, dengan alasan tidak ada suku cadang. Ironisnya, saat melangkah masuk ke Balai Yasa Pengok anda akan disambut sebuah plakat peresmian dan gambar muka CC20027 terpampang di depan gerbang, sementara tidak ada satupun bangkai CC200 yang tersisa di dalamnya.

          Memang nasib CC200 seperti layaknya para veteran di mana pun, terlupakan dan dibuang setelah memberikan segalanya. Padahal nama Indonesia pernah dibebankan di pundaknya dan dengan gagah dijunjung tinggi. CC20015 dengan asapnya yang mengepul hitam menolak menjadi rongsokan bobrok tidak berguna. Dalam kondisi renta, lok ini masih memberikan sumbangsihnya sebagai lok kas antara Cirebon dan Tanjung Rasa. Memang, tidak semulia dan seperkasa dulu saat menjelajah bumi Parahyangan mengantar delegasi KAA dari Jakarta. Biarlah tugas itu saat ini diberikan kepada adik-adiknya yang lebih muda, seperti lok seri CC203 dan CC204, untuk membawa rombongan peserta Pesta Emas KAA di Bandung. Tapi CC20015 akan tetap diingat sebagai lok perkasa yang mampu bertahan menghadapi ganasnya waktu untuk sekali lagi, 50 tahun kemudian, menyaksikan apa yang dahulu pernah dirintisnya. Inilah jasa CC20015 yang selalu dikenang, seperti tertera pada poster di pesta emasnya: “Padamu negeri kami berbakti, bagimu negeri jiwa raga kami…” CC20015 (28 September 1953 - 28 September 2003).