Midnight Adventure

April 20, 2005

Pembentukan Karakter ala JPJ

Hari Sabtu dan Minggu tanggal 16 dan 17 April kemarin rombongan IRPS yang diwakili oleh saya, Hanafi, dan mas Dwi Raharjo bersama seorang wartawan Kompas diberi kesempatan oleh PT. Kereta Api Daop IV Semarang untuk melihat lebih dekat tugas seorang JPJ (Juru Pemeriksa Jalan) di daerah yang sangat terpencil. Kebetulan lokasi yang “dipilihkan” untuk kami adalah di antara stasiun Plabuan dan Kuripan yang terletak di tepi pantai di satu sisi serta alas roban di sisi yang lain. Hmm nice choice…! Kami bertiga tiba siang hari di Semarang dan bergabung ke kantor redaksi Kompas Semarang yang terletak di Jalan Menteri Supeno. Sore hari saya menyempatkan diri berkunjung sejenak ke Lawang Sewu sementara Hanafi dan mas Dwi mengaso. Sayang sekali saya tidak membawa kamera padahal langit sedang cerah.

Malam hari sekitar jam 20.30 kami bertiga diantar mas Oka menuju stasiun Tawang. Beliau menolak kami ajak untuk bergabung dalam petualangan kali ini karena merasa sudah tidak muda lagi. Tak lama wartawan Kompas datang menyusul, dan kami pun segera memesan nasi pecel untuk mengganjal perut. Selagi menunggu kereta Gumarang yang akan mengantar kami menuju Plabuan, kamera kami arahkan pada Senja Utama Semarang, Gumarang, dan Kamandanu.

Tepat pukul 21.30 kami sudah berada di restorasi Gumarang didampingi seorang staf humas Daop IV Semarang. Perjalanan selama 50 menit itu rencananya kami isi dengan istirahat atau tidur tapi ternyata diskusi hangat tentang kereta membuat kami terus terjaga. Tak terasa kami sampai di stasiun Plabuan, sebuah stasiun kecil di tepi perkebunan kapuk dan sebuah desa kecil. Terletak sekitar 12 Km dari jalan raya utama, tempat ini memang in the middle of nowhere. Bahkan sekolah terdekat berjarak 3 Km, beruntung jalan penghubung, satu-satunya akses menuju tempat ini, yang menembus kelebatan pohon-pohon kapuk sudah diaspal kasar sehingga tidak ada lagi kondisi jalan yang becek berlumpur saat hujan.

Kami disambut oleh Kepala Stasiun (KS) Plabuan, KS Kuripan, kepala JPJ distrik Weleri bapak Sumantri, PPKA, dan para stafnya. Terjadi perbincangan yang seru seputar stasiun Plabuan yang konon dibangun tahun 1918 dan masih bertahan sampai hari ini. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh kami untuk melihat dari dekat PPKA yang sedang bertugas mengatur perjalanan kereta. Pokoknya seru sekali dan bisa jadi tulisan tersendiri. Semula kami ingin beristirahat sejenak sambil menunggu petugas JPJ yang datang sekitar jam 1.45, tapi padatnya frekuensi kereta membuat kami selalu terjaga dengan kamera di tangan.

Akhirnya sekitar jam 1.30 petugas JPJ bernama pak Budiono tiba. Beliau langsung menantang kami apakah kami sanggup dan bernyali untuk menempuh jarak 7,35 Km menembus kepekatan malam. “Insyaallah berani…!” jawab saya, walaupun tak ayal nyali sempat ciut juga mendengar kisah-kisah seram beliau sebelum berangkat. Perjalananpun dimulai, berbekal senter di tangan, ransel, serta jaket kami berjalan di belakang pak Budiono dan pak Sumantri. Sebelumnya beliau mewanti-wanti agar kami mengikuti kecepatan jalannya minimal 4 km/jam karena takut terlambat menyampaikan laporan di stasiun Kuripan. Kami menyanggupi.

Perjalanan dimulai, baru saja lepas sinyal masuk Plabuan, kami dikejutkan oleh suara berderit mirip suara orang menimba di tengah kegelapan semak-semak. Mas Dwi langsung menyorotkan senternya dan terlihat kincir angin tua yang berderit-derit itu. Dengan hati lega saya melanjutkan perjalanan di antara bantalan dan batu kricak yang menyakitkan kaki. Di kejauhan terlihat perahu-perahu nelayan dengan lampu berkelipan memantul di atas permukaan laut. Baru saja hati mulai tenang tantangan pertama menghadang, sebuah jembatan sepanjang sekitar 20 m di atas sebuah muara sungai. Dengan hati-hati dan kaki gemetar kami berjalan di antara bantalan kayu yang basah oleh embun. Jantung rasanya berdebar keras apalagi kami sama sekali tidak bisa melihat bagian bawah jembatan yang rasa-rasanya cukup dalam. Ujian pertama kami lalui dengan selamat, dan sebuah perkampungan nelayan menyambut kami. Mata langsung terasa sakit karena terbiasa di kegelapan, sementara kampung nelayan yang terang benderang sedikit memberikan kedamaian di hati kami.

Perlahan-lahan rombongan mulai terbentuk dua kelompok. Saya dan kedua petugas JPJ berjalan sekitar 100m di depan Hanafi, mas Dwi, dan wartawan Kompas. Saya mencoba mengikuti kecepatan petugas JPJ walaupun napas mulai ngos-ngosan dan kaki sudah terasa perih karena lecet. Akhirnya Bapak Sumantri memutuskan untuk menunggu rombongan kedua dan pak Budiono berjalan lebih dahulu sambil berkata bahwa kita akan memasuki daerah paling seram dan angker. Sambil menelan ludah saya melihat pak Budiono berjalan menjauh dengan cepat. Kami berjalan lagi dengan kecepatan yang lebih pelan, sementara debur air laut terdengar makin seram dan suasana makin mencekam. Banyak suara-suara aneh terdengar namun tidak satu pun dari kami yang mau membicarakannya, bahkan pak Suamntri ketika saya tanya suara apa itu dia diam saja enggan menjawab. Hati makin ciut saja saat saya dan mas Dwi melihat seberkas cahaya merah kehijauan melesat cepat di atas kami. Semula kami mengira itu meteor, tapi pak Sumantri berkata mungkin itu adalah keris atau santet.

Kami berjalan lagi dan saya merasakan sesuatu menampar belakang kepala saya mirip hembusan angin tapi sangat keras. Buru-buru saya menengok, tapi mas Dwi sejauh 10 m dari saya dan tidak mungkin dia yang melakukan. Dengan merinding saya percepat langkah meninggalkan tempat itu. Hiiiii syerem…! Di Km 68 kami bertemu dengan Harina dari Bandung. Buru-buru kami menepi dan dengan kecepatan tinggi Harina melewati kami sambil membunyikan semboyan 35. Sekitar 2,5 Km dari Kuripan ujian kedua dan terberat menanti kami, sebuah jembatan sepanjang 40 meter di atas sebuah sungai yang deras. Keringat dingin langsung membasahi badan saya. Setengah mati saya berkonsentrasi melintasi balok demi balok yang licin sambil menjaga keseimbangan sementara suara aliran air yang deras di bawah sana nan gelap sangat mengganggu fokus. Adrenalin memacu jantung sampai serasa mau jebol dari dada. Akhirnya dengan susah payah kami semua berhasil menyeberang. Pak Budiono sudah sekitar 500 m di depan kami. Sambil berjalan kami bergurau bahwa acara ini bisa menjadi program outbound pembentukan karakter. Sangat cocok seandainya program ini diadakan bagi para railfan sebagai semacam outbound.

Well anyway, setelah jembatan maut itu segala sesuatu jadi terasa mudah. Tanpa terasa kami sampai di sinyal muka Kuripan. Tak tergambarkan betapa senang kami semua melihat seberkas sinar kuning itu, seperti mendapat hadiah yang kami idamkan, padahal stasiun kuripan masih sekitar 1,7 Km lagi. Kami mulai tertawa dan bersenda gurau. Sebuah desa kecil menyambut kami, mas Dwi dengan cerdik melewati jalan desa di samping rel karena jalannya lebih datar dan ringan. Sinyal masuk Kuripan seperti menjadi hadiah terbesar kami saat itu, di kejauhan samar2 stasiun Kuripan mulai terlihat. Sebuah jembatan sepanjang 20 m di atas sungai kecil bukan hambatan berarti karena stasiun Kuripan sudah di depan mata. Dengan cekatan kami melewati jembatan itu tanpa masalah sama sekali. Saat tiba di wesel masuk, saya rasanya ingin memeluknya karena senang perjalanan kami akan segera selesai. Kaki saya sudah tidak jelas bentuknya lagi karena lecet dan melepuh di sana sini. Tiba di emplasemen, seperti korban perang kami berjatuhan di lantai sambil mengatur napas.

Setelah mengaso, berganti kaos, dan merawat kaki saya dengan Betadine dan plester, kami pun melepas lelah sambil mengobrol santai. Pak Budiono bercerita tentang pengalamannya baik yang teknis maupun yang seram-seram. Hati terasa lega telah menyelesaikan “Via Dolorosa” alias jalan kesengsaraan kami. Ayam berkokok terdengar di kejauhan menandakan hari sudah pagi. Pak Budiono dan pak Sumantri kembali pulang ke Plabuan dengan menumpang Tawang Jaya, kami pun mengucapkan terima kasih atas pengalaman yang tak terlupakan ini.

Setelah tidur-tidur ayam kami menumpang kereta peti kemas no. 1003 ke Pekalongan. Kami menumpang di gerbong paling belakang di dalam peti kemas 20 feet kosong. Ah, nyaman juga karena badan sudah lelah, tidur dalam gerbong peti kemas terguncang-guncang asyik juga.


About Me

April 7, 2005
GAWAN BAYEK

By Paulus Soni Cahyo Gumilang

Jakarta tahun 1980, stasiun Manggarai. Saya duduk di depan ruang PPKA bersama ibu, dan ayah membeli tiket ke Bogor. Suasana sepi, maklum hari Minggu, terlihat di atas jalinan kawat catenary yang konon masih asli sejak jaman SS memasangnya. Tak lama sebuah kereta dengan wajah kuning dan bodi merah datang mendekat dari arah Gambir. Wow, keretanya bersih sekali, dan lihat pintunya, terbuka dengan otomatis. Perjalan kami menuju Bogor pun dimulai.

Kereta api, ayah, dan Ibu adalah hal yang tak terpisahkan dengan hobi kereta api saya. Terlebih saat kami pindah ke Condet, yang dekat ke stasiun Pasar Minggu, kereta api langsung menjadi bagian yang dekat dengan hidup. Saya selalu menyusuri rel setiap pulang sekolah, nongkrong di stasiun menunggu KRL, KRD, atau kereta pasar yang penuh dengan pedagang dan ternak.

Waktu pun berlalu, hobi kereta api perlahan tertinggalkan, digantikan musik, motor, dan cewek. Tapi suatu saat di Jogja saat kuliah, hobi itu mengusik lagi, terlebih saat mengunjungi Balai Yasa Pengok, los bunder (roundhouse), dan nongkrong di dekat Stasiun Lempuyangan. Hmmm cinta pertama memang nggak akan pernah hilang.

Aneh! Ya… mengapa orang menganggap hobi kereta api aneh…? Tidak ada yang protes dengan hobi mobil, atau, motor, atau pesawat terbang sekalipun… Thank God, tidak demikian dengan Ayah dan Ibu. Mereka bilang, sejak saya berumur 1 tahun saya sudah biasa mengamati dan menghapalkan bagian-bagian kereta api. Jadi kata orang Inggris: “Gawan Bayek…!” (bawaan orok) So, mereka maklum tentang kegilaan saya ini.

Tahun 2003 (lupa tanggalnya) IRPS-FoCC200 menerima saya menjadi anggota keluarganya. Inilah spesies di mana saya bicara dengan bahasa yang sama, bernapas udara yang sama, dan berpikir hal yang sama dengan mereka. Inilah keluarga saya yang baru. Saya tidak sendiri!

Trans Sumatra railways, Sulawesi Railways, dan semua kereta api yang akan muncul di bumi Indonesia. Apapun yang terjadi jangan sampai kereta api Indonesia mati. Kalau kereta api tidak bisa berubah, biarkan seperti adanya asal tidak mati.