ADA APA DI JOGJA…?!
January 19, 2009Jogja, nama ini tentu tidak asing bagi telinga kita, bahkan mungkin juga bagi telinga orang-orang asing. Inilah salah satu tempat tujuan wisata paling terkenal di Indonesia setelah Bali. Setiap kali tiba masa liburan, bisa dipastikan ribuan wisatawan baik nusantara maupun mancanegara menyerbu kota ini. Mereka memadati obyek-obyek wisata seperti Malioboro, Keraton, Alun-alun selatan, Tamansari, Candi Prambanan, dan tempat wisata lainnya yang tersebar seantero Jogja. Namun, berbeda dengan wisatawan lain yang datang untuk menikmati kekayaan budaya khas jogja, ada juga pelancong-pelancong khusus yang sering mengunjungi kota ini dengan alasan yang berbeda. Ada apa gerangan di Jogja yang menjadikan tempat ini sangat menarik di mata mereka sehingga wajib untuk dikunjungi. Jawabannya sangat mudah: kereta api. Ya, Jogja adalah tempat tujuan wisata bagi para pecinta kereta api.
Di sinilah tempat di mana kekayaan sejarah kereta api menjadi daya tarik bagi para pecintanya dari seluruh penjuru dunia. Tanyakan ini pada Indra Krishnamurti, dosen sosiologi Universitas Indonesia. Pria kelahiran Solo ini dengan fasih menjelaskan detail sejarah stasiun utama di Jogja yaitu Tugu: “Ini adalah stasiun yang unik, karena di sebelah selatan dulu lebar sepurnya 1435 mm sementara yang utara 1067 mm… Tapi tahun 1942 semua rel 1435 mm dibongkar Jepang dan dijadikan 1067 mm…” Dengan gesit dia melangkah menuju ke pintu utama stasiun di sebelah timur dan menunjuk ke bagian muka bangunan: “Yang sekarang kita lihat ini bukan bentuk aslinya… Stasiun Tugu awalnya dibangun dengan gaya neoklasik kemudian pada tahun 1930 diubah menjadi gaya art deco dan bertahan sampai sekarang…”
Berburu Foto
Lain lagi dengan Muhammad Hanafi. Anak muda yang baru saja menamatkan studinya ini tidak tertarik dengan sejarah kereta api, namun dia rela bepergian dari Jakarta ke Jogja sebab sangat menyukai atmosfir kota ini. “Tiap lima menit ada kereta… Apalagi saya hobi foto kereta, jadi seru…!” Memang bagi para pemburu foto kereta api, Jogja merupakan tempat yang sangat ideal. Padatnya frekuensi perjalanan kereta api dengan latar belakang panorama alam yang indah dan masih asli menjadikan para pemburu foto kereta api betah berlama-lama di kota ini.
Ada banyak tempat favorit para pemburu foto untuk mengabadikan kereta yang lewat, di antaranya jalan layang Lempuyangan dan Janti, stasiun Kalasan, jembatan Progo, dan beberapa tempat terpencil lainnya. Senada dengan Hanafi, dua pemburu foto kereta api lainnya, yaitu Lutfi Tjahyadi dan Dwi Raharjo, juga sering menghabiskan waktu di Jogja. “Banyak lokasi bagus, seperti di dekat bandara, atau jembatan Kalasan…” tegas Dwi, seorang pria setengah baya yang enerjik mengejar kereta. “Lok yang lewat macem-macem… Ada CC203, CC201, BB301, dan kadang-kadang lok favorit saya BB200…” lanjut Lutfi, seorang penggemar kereta dari Surabaya.
Jauh sebelum generasi mereka, Jogja memang sudah dikenal di mancanegara sebagai surga bagi para pemburu foto kereta api. Simak saja di web site yang dibuat oleh Malcolm Wilton-Jones. Di situs http://members.lycos.co.uk/stepping_stones/SteamLoco.htm buatan pria Inggris ini terpampang serangkaian foto kereta api di Jogja pada tahun 1976. Bahkan A.E. “Dusty” Durant, seorang penulis buku lokomotif terkenal, menempatkan beberapa foto yang diambil di Jogja selama kunjungannya pada tahun 1970 - 1971 dalam buku yang berjudul Lokomotip Uap. Kalau masih belum puas, klik saja www.trainweb.org/sepurinter, web site yang dikelola oleh Bagus Widianto. Pemuda asal Surabaya yang berdomisili di Australia dan Singapura ini bahkan khusus membuat album foto-foto kereta api yang diambil di sekitar Jogja.
Tour Guide
Berbicara tentang perkeretaapian di Jogja tentu saja tidak bisa melupakan nama Bagas Windiarso. Pria yang pernah bekerja di harian terkemuka Jogja ini merupakan contact person yang sering dihubungi para penggemar kereta api yang banyak berdatangan ke kota ini. Di sela-sela kesibukannya, Bagas selalu meluangkan waktu menemani para pelancong khusus itu dan membekali mereka tentang pengetahuan tentang kereta api di Jogja. “Tidak banyak yang tahu bahwa jembatan kewek itu dulu jembatan kembar… Satu jembatan di sisi sebelah utara dibongkar tahun 1960-an… Sekarang yang terlihat tinggal sisa pondasinya yang dijadikan monumen keluarga berencana…” katanya saat melintas di bawah jembatan di atas sungai Code itu.
Pengetahuan Bagas tentang perkeretaapian di Jogja tidak diragukan lagi, sehingga sering dia diangkat menjadi tour guide dadakan. “Dulu ada yang minta ditemani menyusuri sisa-sisa rel ke Bantul dan Magelang… Bahkan saya sampai harus ikut mblusuk-mblusuk mencari bekas jembatan double track yang dibangun SS tahun 1929 di daerah Kalasan…” Walau demikian, Bagas sangat senang berbagi pengetahuan dengan rekan yang mempunyai hobi sama dengannya dan sebisa mungkin tidak menolak ajakan untuk berpetualang menyusuri perkeretaapian di Jogja.
Sebagai putra kelahiran Jogja, Bagas hafal benar seluk beluk kereta api di kota ini. Bahkan jalur-jalur yang sudah lama ditutup pun dia bisa menemukan sisa-sisanya. “Di jalan Krasak, utara stasiun Lempuyangan, ada bangunan yang sekarang jadi kantor distrik jalan dan jembatan Daop VI… Nah, itu dulunya stasiun milik NIS untuk kereta menuju Magelang…” Lain lagi ceritanya saat menuju ke arah timur, Bagas mengajak mampir ke depan bandara. Rupanya dia ingin menunjukkan sisa-sisa pondasi jembatan layang kereta api milik SS. “Dulu rel yang di bawah itu milik NIS sementara yang melintas di atasnya milik SS…” ujarnya sambil tersenyum melihat wajah-wajah heran yang tidak menyangka ada jalan kereta layang pada jaman Belanda.
Preservasi Kereta Api di Jogja
Jogja sebagai tujuan wisata kereta api dipahami benar oleh Widoyoko, mantan ketua Indonesian Railway Preservation Society (IRPS), organisasi yang sangat memperhatikan aset-aset bersejarah kereta api di Indonesia. Di Jogja sendiri banyak bangunan-bangunan bersejarah milik kereta api yang masih dalam kondisi terawat. Balai Yasa Pengok dan Round House atau dikenal dengan los bunder Lempuyangan adalah bukti bangunan tua yang dipreservasi dengan baik. “Aset bersejarah kereta api itu bukan cuma lokomotif saja tapi juga bangunan, jalur tua, dan peralatan kuno…” kata Widoyoko. Menyadari animo para pecinta kereta api yang begitu besar untuk mengunjungi Jogja, maka IRPS mengadakan acara bagi anggotanya yaitu kunjungan ke Balai Yasa Pengok, los bunder, dan sekolah masinis BPTT (Balai Pendidikan Tehnik Traksi) Lempuyangan beberapa waktu lalu. Dari hasil kunjungan tersebut terhimpun data penting bahwa di dalam Balai Yasa Pengok tersimpan banyak sekali lokomotif-lokomotif diesel yang unik dan langka dalam keadaan rusak. Lok-lok itu menunggu untuk dijadikan besi tua dan ditumpuk begitu saja di sebelah barat Balai Yasa. Istilah yang dipakai untuk lok dalam kondisi demikian adalah dikebunkan. Karena setelah dibiarkan begitu lama, bangkai-bangkai lok itu sampai ditumbuhi semak belukar. Nasib lok-lok tersebut memang tidak jelas, karena untuk sekedar menjualnya dalam besi tua saja dibutuhkan prosedur yang panjang dan berbelit, konon sampai harus meminta persetujuan dari Departemen Perhubungan. Selama menanti kejelasan, lok-lok itu dibiarkan berkarat di halaman Balai Yasa.
Bermula dari diskusi dan evaluasi hasil kunjungan tersebut, para anggota IRPS berkesimpulan bahwa akan sangat sayang sekali jika lok-lok yang merana itu dibesituakan dan dilebur hingga hilang sama sekali. Akibatnya generasi yang akan datang tidak bisa lagi melihat lok-lok itu secara langsung karena hanya terekam di dalam foto-foto saja. Digerakkan oleh rasa peduli maka IRPS berinisiatif untuk mengusulkan sebuah wacana tentang pembangunan museum kereta api baru yang akan mewadahi lok-lok diesel langka untuk dipreservasi, paling tidak satu unit saja dari setiap kelas. “Sayang sekali lho lok BB305 buatan Perancis yang cuma ada 3 unit di Indonesia nanti hilang cuma karena dibesituakan…” ujar seorang anggota IRPS. “Jika di Ambarawa sudah ada museum lok uap, kan di Jogja bisa dibangun museum lok diesel…” imbuh Novaprima, anggota IRPS lainnya. Lokasi museum diimpikan adalah di los bunder yang menjadi satu di komplek Balai Yasa, mengingat semua materi pameran tersimpan di dalamnya. “Selain lok yang dipamerkan, nantinya museum ini bisa dilengkapi ruang pameran foto, diorama, teater, dan perpustakaan…” kata Widoyoko. “Relik sisa kecelakaan Bintaro juga bisa dipamerkan sebagai peringatan kepada generasi mendatang…” lanjutnya. Bila kelak museum itu sungguh-sungguh terwujud, maka Jogja akan mempunyai tempat tujuan wisata baru yang dapat dinikmati oleh semua orang dan tidak terbatas para pecinta kereta saja, yaitu Museum Lokomotif Diesel Pengok, Jogja. “Kehadiran museum ini akan semakin menumbuhkan kepedulian dan kecintaan pada kereta api, terutama bagi generasi muda…” terang Widoyoko. Tidak boleh dilupakan juga, dengan kehadiran museum ini kelak, bisa dipastikan para penggemar kereta api semakin berbondong-bondong menyerbu Jogja.

Posted by spoorsoni


































































